Menyikapi Perubahan ”Genre” Dalam Studi Sejarah

October 5, 2006 § Leave a comment


SEJAK sejarah menjadi bagian dari kajian ilmu tersendiri, beberapa kali telah mengalami perubahan. Hal ini bukanlah berdiri sendiri, melainkan juga diakibatkan oleh percepatan perubahan yang secara langsung menyeret pemikiran sebuah masyarakat untuk mengerti realitas perubahan yang terus menerus terjadi.

Menurut R.Z. Leirissa (2000) hingga kini ada dua macam pengertian terhadap perubahan itu sendiri. Pertama beranggapan bahwa masyarakat senantiasa berubah dan tidak akan sama benar dengan masa lampaunya. Kedua, bahwa perubahan itu disebabkan oleh manusia atau manusialah yang membuat sejarahnya sendiri.

“Development” dan historisisme

Perspektif “perubahan” ini merupakan pandangan dominan yang muncul pada masa Enlightenment (pencerahan) di abad ke-18. Ini pula yang kemudian mampu mengubah pandangan sejarah klasik dan menggantinya dengan pemikiran sejarah historical thinking dan melahirkan ilmu sejarah. Selain itu, dalam hal ini dilihat sebagai sejarah universal karena yang dipentingkan adalah faktor-faktor yang universal sehingga dengan demikian unsur-unsur sosial seperti kapitalisme, industrialisasi, negara-bangsa, dan lainnya menjadi penting di sini. (Furedi 1993; 59-87) Apa yang kita kenal pengertian sejarah dengan pembangunan (development) adalah wujud pengertian dominan semenjak era ini.

Namun dengan cepatnya perubahan dunia industrialisasi-khususnya yang berkembang di Eropa pada abad ke-19 pengertian ini kemudian bergeser lagi. Pengertian sejarah sebagai development ini berubah menjadi historisisme. Pandangan ini berkeyakinan bahwa pandangan development ternyata telah menghasilkan tindakan manusia yang terlalu maju dan mengabaikan masa lampau yang penuh dengan keteraturan dan kedamaian. Ada semacam “ketakutan” jika development tersebut terus berkembang karena dengan demikian industrialisasi hanya akan meluluh-lantakkan peradaban dan nilai-nilai positif dalam masyarakat Barat yang berakar pada filsafat Yunani kuno. Perubahan industrialisasi yang demikian cepat ini dirasakan menganggu ketentraman yang pernah ada dalam masa lampau. Pandangan seperti ini diwakili oleh Leopold von Ranke dan Jakob Burrckhardt (Gilbert 1990).

Yang dominan dalam pandangan ini adalah mengasumsikan bahwa ada suatu kelompok masyarakat tertentu yang mendambakan kembalinya masa lampau itu untuk dihadirkan dalam masa kini. Tetapi, berbeda dengan masyarakat tradisional di masa lampau tetap hadir sebagai “pola” utama, masyarakat modern telah kehilangan masa lampaunya itu, hanya bisa menjadikan masa lampau sebagai “model” untuk masa kini. Malah tidak jarang masa lampau tersebut direkayasa dengan memproyeksikan nilai-nilai tertentu dari masa kini sebagai “seolah-olah” ada di masa lampau. Pandangan historisisme yang dominan dalam abad ke-19 itu, sejak tahun 1914 muncul kembali dan malah bertahan hingga kini dalam bentuk sejarah nasional untuk kepentingan pendidikan sekolah. Inilah yang dinamakan “Neo Historisisme” yang menafsirkan sejarah sebagai of the past into the future (furedi, loc cit)

Materialisme dialektika historis

Selain dua pandangan di atas kita juga diperkenalkan pemikiran sejarah dalam perspektif Marxian. Berbeda dengan kecenderungan pemikiran di atas yang lebih menekankan “objek”, perspektif Marxisme justru menempatkan manusia sebagai yang tak terpisahkan dalam mempelajari sejarah. Menurut Karl Marx dan Frederick Engels, keberadaan manusia “dibedakan dengan binatang karena kesadarannya, karena agamanya atau karena hal-hal lainnya. Mereka mulai membedakan dirinya dengan binatang begitu mereka mulai bisa memproduksi bahan-bahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya”. (Progress Publishers: Moscow, 1975; 20).

Jadi, apa yang membedakan manusia dengan binatang lainnya adalah karena, secara sadar, manusia memproduksi bahan-bahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menggunakan atau membuat alat produksi yang terbuat dari berbagai macam bahan. Tetapi, agar bisa melakukannya, mereka harus secara sadar saling bekerja sama dengan sesamanya.

Masyarakat, yang melibatkan kehidupan dan kerja bersama sebagai kelompok yang integratif merupakan cerminan hasil pengerahan tenaga kerja dalam memproduksi makanan, pakaian dan tempat tinggal. Keharusan manusia untuk saling bekerja sama dalam memenuhi kebutuhannya merupakan landasan berdirinya masyarakat dan landasan sejarah manusia. Dalam konsepsi Marxis, hukum-hukum pokok kehidupan sosial adalah identik dengan hukum-hukum pokok yang mengatur sejarah manusia.

Apa yang menjadi karakter Marxisme dalam memahami dunia adalah pengakuan bahwa dunia, dalam segala aspeknya, terus-menerus bergerak. Yang konstan berubah jadi variabel sebab berubah jadi akibat, dan sistem berkembang, menghancurkan syarat-syarat yang menciptakannya. Bahkan, unsur-unsur yang kelihatannya stabil pun sebenarnya berada dalam posisi equilibrium dinamik sesuatu yang saling bertentangan, yang bisa saja, secara tiba-tiba, menjadi tidak stabil, seperti sinar baja yang redup, yang sedang berada pada posisi kritis kepanasannya (mass), tiba-tiba berubah menjadi pijar-pijar atau bola-bola api. Walaupun, gerak itu memang ada batasnya dan tidak seragam. Organisme berkembang dan jadi berjenis-jenis, kemudian mati dan tercerai berai.

Makhluk terlahir/muncul namun juga, tak terelakan, akan punah (keragaman jenis makhluk yang ada sekarang jumlahnya hanya kurang dari satu persen dari keseluruhan makhluk yang pernah ada di bumi). Bahkan, dalam dunia yang semakin tidak kompleks ini, terbukti tak ada keseragaman gerak. Dalam terori Marxisme inilah terjadi keterpaduan antara filsafat manusia dengan hukum sejarah masyarakat yang terjadi dalam fase-fase yang telah ditentukan oleh hukum determinasi masyarakat, yang terstruktur dalam zaman komune primitif, perbudakan, feodalisme, kapitalisme, sosialisme dan kemudian komunisme.

“Postmodernisme”

Pandangan lain kemudian turut menyusul di kemudian hari tepatnya pada sekitar tahun 1970-an yang juga menolak sejarah sebagai development. Apa yang kita kenal dengan postmodernisme yang diwakili oleh Gadamer telah menunjukkan asumsi-asumsi lama berkaitan dengan sejarah tersebut. Aliran ini pada dasarnya bersumber pada filsafat modern seperti eksistensialisme, Marxisme dll yang dihubungkan dengan tafsir bahasa (Hermeneutika). Berbeda pula dengan paham historisisme pandangan ini tidak mengakui sejarah sebagai perubahan sosial. Postmodernisme lebih cenderung menekankan bahwa manusia tidak bisa menekankan kenyataan an sich sehingga yang ada hanyalah hasil imajinasi yang didasarkan pada persepsi dan pikiran (reason).

Kenyataan dalam pemikiran ini, “sekaligus adalah majemuk, lokal, dan temporal, dan tanpa fondasi yang jelas” (Tarnas 1991: 395-410). Selain itu wawasan ini tidak mengakui adanya kebenaran universal; setiap sejarah memiliki kebenarannya sendiri-sendiri.

Postmodernisme menolak konsep sosial (masyarakat) karena yang dianggap hanyalah individu. “sebab itu runtuhnya makna dalam Postmodernisme diganti dengan munculnya kesadaran mengenai tanggung jawab individu dan kemampuannya untuk berinovasi dan mentransformasi diri sendiri sebagai jawaban atas kehidupan eksistensial dan spritualnya”.

Sekalipun Postmodernisme pada mulanya muncul sebagai kajian bahasa, namun kemajuan pesat nampak dalam studi wanita, khususnya rangsangan bertolak belakang antara dekonstruksi dan integrasi. Dalam studi wanita, khususnya dan sekaligus diadakan integrasi mengenai struktur paling jelas betapa “makna diciptakan dan diawetkan, betapa evidensi (bukti) diinterpretasi secara selektif dan teori dibentuk secara sirkuler dan saling menopang perilaku mengabaikan hegemoni laki-laki, betapa suara wanita tidak pernah didengar sepanjang masa dominasi sosial dan intelektual laki-laki, dan permasalahan yang mendalam akibat asumsi-asumsi maskulin mengenai realitas, pengetahuan, alam, masyarakat, yang suci” (Tarnas, loc cit.).

Dalam hal ilmu sejarah, dasar-dasar ilmu pemikiran Postmodernisme tersebut malahirkan historiografi yang menekankan individu dan komunitas atau kelompok sosial yang kecil dan sering dibatasi secara geografis. Sejarah dalam pengertian ini, dengan demikian, menolak faktor-faktor yang universal dan hanya menekankan the particular, keunikan lokal. Bentuk historiografi yang dihasilkan adalah apa yang disebut small narrative.

Beberapa jenis hitoriografi yang dapat digolongkan dalam bentuk metode ini adalah umpamanya, every day study dalam James Scott mengenai pemberontakan petani, atau people history yang kini banyak mempengaruhi penelitian mengenai sejarah revolusi Inggris, atau local history yang hanya menekankan faktor-faktor lokal (Furedi 1993: 193-251).

Menuju rekonstruksi

Di atas telah diuraikan beberapa pandangan sejarah minimal dari empat “genre” yang berbeda, baik dalam memandang esensi sejarah itu sendiri maupun titik tolak yang mendasari kenapa perspektif demikian lahir. Satu hal yang perlu kita pikirkan selanjutnya adalah, bahwa ilmu sejarah bukanlah menetapi satu bentuk yang utuh dalam setiap metodenya. Ada banyak persoalan yang menyulitkan kita untuk mengambil kesimpulan benar atau salah.

Pandangan development yang mempunyai “tendensi” penempatan alam sebagai agen justru menimbulkan kecemasan karena ternyata gerak alam lebih cepat dari yang diperhitungkan manusia. Sementara itu, historisisme-karena ketakutannya-cenderung menghindari progresivitas gerak sejarah. Hal ini memang telah berhasil diatasi oleh Marxisme dengan konsepsi materialisme-historisnya. Namun, ketika berbagai ramalam terhadap arah zaman yang telah dibakukan dalam konsep linieritas historis-kapitalisme menuju sosialisme-komunisme-tidak tercapai, banyak sejarawan yang cenderung menghindari perspektif Marxian ini.

Belum lagi ditemukan konsepsi untuk mengatasi kemacetan berbagai perspektif ini munculah postmodernisme yang cenderung menafikan semua ramalam historis di atas. Postmodernisme sebagai konsep hingga saat ini memang getarannya cukup luas dalam dunia pemikiran. Namun “ironisitas” yang ditampilkan sebagai doktrin itulah yang justru pada akhirnya akan memandulkan gerak pemikiran ke depan. Jika ini terjadi maka gerak cepat alam yang terus berulang-ulang menciptakan sejarah baru, justru tidak mampu “kendalikan” oleh manusia.

Dengan fenomena ini, agaknya kita dalam mengelola perspektif sejarah masih harus berjuang keras untuk “menciptakan” kreatifitas baru berkaitan dengan tuntutan kebutuhan ilmu sejarah. Adanya “relativisme” yang terus mengemuka dalam setiap perbandingan “genre-genre” itu agaknya menuntut paradigma dasar berupa tafsir sejarah yang diharapkan dapat memperkuat landasan konsepsional.

Penting untuk diketengahkan, bahwa tafsir yang dimaksud di sini bukan dalam pengertian filosofis, tetapi lebih pada tafsir fungsional. Artinya bukan mengedepankan prinsip-prinsip kebenaran di luar ketentuan fakta dan data melainkan tetap mengedepankan investigasi. Hal ini dimaksudkan untuk menjembatani antara sikap relativisme tafsir dengan kebenaran akurasi data itu sendiri.

Ini memang akan menyulitkan para peneliti, sebab tidak akan mudah menerapkan satu kesimpulan sebelum beberapa tafsir itu menunjukkan kesimpulan-kesimpulan “kualitatif”. Namun dengan cara ulet inilah kita akan menemukan satu kekayaan khasanah ilmu sejarah. Dan, jika ini diupayakan secara sungguh-sungguh, maka ilmu sejarah tidak akan dipandang sebagai anak tiri dibanding ilmu-ilmu lainnya.***Siti Nur Aryani

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0303/09/1001.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menyikapi Perubahan ”Genre” Dalam Studi Sejarah at Powering Public Reading.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: