“Wireless” untuk Jalan Raya


KOMPLEKSITAS perangkat dan komponen instalasi suatu jaringan Internet biasa kini secara drastis tereliminasi. Hal ini disebabkan munculnya teknologi tandingan jaringan Internet nirkabel (wireless). Jaringan (networking) nirkabel memberikan dampak konvergensi bagi teknologi-teknologi digital yang mengelilingi kehidupan kita. Bentuk yang paling banyak dan paling dekat dengan kita adalah ponsel. Kini, ponsel adalah teknologi yang paling banyak memanfaatkan jaringan nirkabel dalam proses evolusinya yang kian hari bergerak menuju bentuk yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebuah ponsel, misalnya, kini tidak hanya sebagai alat komunikasi verbal belaka melainkan dilengkapi berbagai fasilitas, seperti fungsi kamera, games, dan Internet. (Kompas, 20/10/2003).

Sejauh ini, jaringan wireless jenis standar 802.11b yang juga dikenal dengan istilah Wi-Fi ideal untuk komputer PC sayangnya tidak mendukung bandwidth yang dibutuhkan untuk sebuah jaringan yang terintegrasi dengan audio dan video. Generasi protokol wireless berikutnya, seperti 802.11a dan 802.11g, lebih fisibel bagi suatu jaringan. Protokol 802.11a beroperasi pada 5 gigahertz. Ini artinya kemungkinan terjadinya interferensi jika diterapkan pada telepon seluler serta perangkat lainnya sangat kecil. Protokol 802.11a memiliki bandwidth lima kali lebih cepat dibandingkan dengan protokol 802.11b, begitu pula dengan jenis 802.11g. Protokol 802.11g memiliki range dari 40 hingga 170 kaki dengan spektrum 2.4 gigahertz, namun cenderung mengalami interferensi jika diterapkan pada jaringan.

Inovasi teknologi pada jaringan wireless sangat dipengaruhi teknologi Wi-Fi dan Internet Protocol (IP). Wi-Fi dan IP menstabilkan koneksi jaringan. Di pasar Amerika, harga Wi-Fi dan IP Mobile mulai masuk pada kategori mudah dijangkau oleh konsumennya sehingga dampaknya perusahaan-perusahaan skala kecil, seperti home industry atau sejenis software house, mampu menikmati kemudahan ini. Lain halnya dengan di Indonesia, anggapan bahwa teknologi nirkabel adalah sesuatu yang terlalu ambisius dan terlalu mahal untuk diterapkan di perusahaan-perusahaan kecil dan masyarakat luas adalah keliru. Kebenarannya adalah hambatan yang terjadi justru bukan pada perangkat dan harganya melainkan kebijakan pemerintah untuk penerapan jaringan wireless, seperti yang dijelaskan Onno W Purbo di harian ini.

Sebagai contoh, kasus pembebasan wireless Internet. Sejalan dengan harapan peningkatan akses dan pemanfaatan Internet untuk masyarakat luas gagasan pembebasan wireless Internet yang kini sedang diperjuangkan Onno W Purbo dan kawan-kawannya patut kita dukung secara penuh dan ditanggapi serius oleh pemerintah, baik daerah maupun pusat.

Teknologi wireless, khususnya wireless Internet, memberikan seribu satu manfaat bagi masyarakat luas dan memberikan gagasan untuk terciptanya berbagai sistem dan perangkat pendukung setiap aspek kehidupan. Mengambil pelajaran dari tragedi bus maut Situbondo yang menewaskan 54 orang siswa-siswi sebuah SMK di Sleman, Yogyakarta, termasuk di dalamnya guru dan pemandu wisata. Berbagai perdebatan kemudian bermunculan menanggapi terjadinya musibah tersebut. Mulai dari sistem kontrol lalu lintas, baik di level aparat maupun level perangkat pendukung, mental disiplin dan tertib setiap pengguna lalu lintas, hingga asuransi kecelakaan pengguna lalu lintas. Terlepas dari perdebatan siapa yang layak disalahkan dalam musibah tersebut, dan terlepas pula mulai dari mana pembenahan harus dilakukan berdasarkan skala prioritas, tidak rugi rasanya jika kita melihat teknologi wireless ini kaitannya dengan kemungkinan pembangunan sebuah sistem kontrol lalu lintas dan transportasi untuk Indonesia.

Mengambil contoh California State Highway System, California Department of Transportation (Caltrans) bertanggung jawab untuk memastikan seorang pengemudi di mana harus mengemudikan kendaraannya secara cepat dan aman. Untuk tujuan itu Caltrans meng-update Intelligent Transportation System (ITS)-nya yang didesain untuk mengontrol lalu lintas jalan raya, meningkatkan keamanan lalu lintas, dan mengurangi waktu terbuang percuma di jalan raya.

Caltrans meningkatkan kualitas gambar yang ditampilkan dalam video dan komponen lainnya supaya dapat memonitor lalu lintas, cuaca, dan kecelakaan. Tiga elemen yang menjadi kunci penting Caltrans untuk tujuan itu meliputi: rambu lalu lintas (changeable message signs), sistem meteran jalur (ramp-metering systems), dan sistem video pengawas (video surveillance). Setiap elemen sistem berjalan melalui IP pada jaringan yang mengombinasikan suara dan komunikasi data. Konvergensi jaringan menyangkut sistem video pengawas, telemetri lalu lintas, data, dan komunikasi suara. Caltrans melakukan konsolidasi solusi ini dengan memanfaatkan teknologi wireless dan IP Telephony (Internet Quotation, October 2003). Kecanggihan sistem pengawasan lalu lintas dan sistem sinyal kontrol menjadikan sistem manajemen lalu lintas mampu mengurangi kasus tabrakan hingga 50 persen.

Siti Nur Aryani Praktisi Teknologi Informasi Fokus Usaha Solusi Jakarta

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0312/17/telkom/750424.htm

One thought on ““Wireless” untuk Jalan Raya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s