Sejauh Mana Relasi Mikrobanking dengan TI?


Minimal ada dua hal yang menarik dalam membahas hubungan antara perbankan mikrobanking dengan penerapan teknologi-informasi (TI). Pertama, adanya perbedaan yang cukup kontras pada mikrobanking dari konsep bank komersial standar lainnya. Mulai dari produk, penentuan harga, manajemen, staf, pelatihan, pengawasan, pembukuan, laporan, sistem informasi dan sebagainya harus dirancang secara khusus agar institusi bersangkutan mampu memberikan keuntungan bagi para nasabah, khususnya mereka yang tergolong berekonomi rendah.

Kedua, adanya kondisi (makro) yang lebih stabil dari mikrobanking ketimbang bank standar umumnya. Kita tahu, likuidasi secara massal terhadap industri bank-bank besar pernah terjadi di negeri ini karena alasan tidak memenuhi persyaratan sebagai bank sehat. Namun, hal itu justru tidak berlaku bagi bank kecil. Bank kecil yang bermodal tidak sebesar bank besar tersebut malah tetap berdiri hingga hari ini dan menjadi penyokong usaha kecil dan koperasi, bahkan semakin menampakkan kemajuannya dalam menerapkan TI untuk kebutuhan operasional internal mikrobanking.

Sementara, bank dengan konsep standar umum, lebih cenderung mengoptimalkan layanan TI kepada pelanggan. Secara umum, kemajuan penerapan TI di lingkungan perbankan bisa kita rasakan dari semakin mudahnya interaksi antara pihak perbankan dengan para nasabahnya. Sebut saja fasilitas online banking yang sangat berharga bagi masyarakat khususnya pelanggan. Layanan semacam ini diharapkan juga diterapkan untuk institusi keuangan lainnya bahkan bank-bank cabang yang masih menggunakan sistem tradisional.

Lalu, apakah penerapan TI dalam mikrobanking mempunyai perbedaan dari bank standar umum? Pada prinsipnya penerapan TI bagi perusahaan apapun, perbankan mikro atau konvensional menganut prinsip yang sama. Kebutuhan penerapan TI dipicu bukan hanya karena secara umum dunia modern menuntut interaksi yang modern pula. Lain dari itu, dengan penerapan TI, kemudahan, efektivitas dan pemaksimalan pelayanan lebih terjamin ketimbang dengan tanpa TI.

Karena itu, -Mikrobanking atau perbankan standar umum lainnya,- dituntut untuk memperbarui layanan setiap kantor cabang guna memastikan pengintegrasian menyeluruh, menciptakan pengalaman mengesankan bagi para pelanggan tanpa menghiraukan dari kantor cabang mana pelayanan diberikan.

Perubahan yang terjadi untuk mencapai tujuan ini melibatkan aspek operasional dan teknologi. Aspek teknologi secara mendasar menyangkut infrastruktur jaringan. Model lama infrastruktur jaringan yang diterapkan perbankan tentu belum dilengkapi fitur protokol Internet (IP) yang mendukung konvergensi data, suara dan aplikasi video.  Padahal proses dalam online banking mensyaratkan lalu lintas komunikasi ketiga aspek tersebut. Karena itu, yang menjadi agenda pertama sebuah bank untuk mencapainya yakni dengan melakukan upgrade (peningkatan) jaringan. Peningkatan ini sudah tentu sekaligus juga memungkinkan terjadinya penggantian sistem telekomunikasi PBX dengan sistem tunggal telepon IP.

Jaringan tersebut pada intinya akan menangani komunikasi suara dan data serta mengurangi kebutuhan pemeliharaan dan pengelolaan dua atau lebih jaringan yang saling terpisah. Sistem telepon yang didukung melalui protokol Internet juga berfungsi untuk memusatkan pemrosesan panggilan, Sehingga menurunkan kebutuhan perangkat keras di setiap kantor cabang serta mengurangi pengelolaan sistem PBX yang bertahap banyak.

Lebih jauh penerapan sistem jaringan berbasis IP yang dilakukan institusi bank dengan kantor cabangnya selain menurunkan ongkos manajemen jaringan dan telekomunikasi, yang terpenting adalah meningkatkan manajemen pelayanan pelanggan dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya, seperti fasilitas pengaktifan pusat panggilan, di mana para staf kantor cabang dapat mengakses data riwayat respon pelanggan terhadap bank.

BRI dengan unit desanya yang memfokuskan pada layanan keuangan mikro dan kecil terbukti mampu bertahan dari badai krisis secara lebih baik dibanding institusi keuangan yang menitikberatkan pada minimalisasi risiko kliennya.Dengan tanggung jawabnya dalam tugas manajemen di Divisi Mikrobanking, BRI menjadi bank pertama di dunia yang menjangkau jutaan pelanggan miskin. Di bawah petunjuk Sugianto, para staf Divisi Mikrobanking tidak melatih para kliennya, justru mereka yang belajar dari para kliennya itu. Hal ini yang menjadikan BRI memberikan layanan kredit dan tabungan yang sesuai denga tuntutan para klien berpendapatan rendah.

Solusi untuk sistem mikrobanking

Bank, institusi keuangan, biro perkreditan, biro pegadaian dengan kata lain mikrobanking yang banyak tersebar di pinggiran kota dan pedesaan harus diberikan aplikasi computer yang murah dan sangat terjangkau misal dengan aplikasi yang berbasis sistem operasi open source Linux, namun mampu menyediakan akses Internet dan e-mail dalam bahasa local setempat bahkan kalau perlu dengan fitur dan fungsi yang sangat mudah digunakan.

Bahkan mengingat di pedesaan dan pelosok, masih sangat banyak penduduk baik para petani, peternak atau pelayang yang buta huruf maka ke depan aplikasi perangkat lunak yang memberikan fitur semacam pengenal ucapan dan pengkonversi teks ke ucapan.

Persoalan mikrobanking memang tidak lepas dari kondisi secara umum di mana masyarakat masih tertinggal dari kemajuan TI yang terus-menerus bergerak tiada henti. Di atas kondisi obyektif ini, penerapan TI di kalangan mikrobanking bisa memuat rekomendari umum, yakni, penerapan TI yang lebih berorientasi pada hubungan internal. Hal ini bukan lantas mengabaikan sisi TI bagi pelayanan nasabah, melainkan lebih mengedepankan aspeks praktis. Sebab bagaimana pun juga nasabah bank tidak semuanya sudah bisa beradaptasi dengan TI.

Di luar itu, kita harapkan agar pihak pemerintah memberikan perhatiannya terhadap sistem mikrobanking sebagai pendukung bagi kelancaran proses transaksi dan pemberian kredit. Sistem mikrobanking akan lebih berdaya guna apabila didukung infrastruktur jaringan Internet tanpa kabel sehingga pengaksesan Internet pada sistem ini tidak perlu menggunakan modem dan saluran kabel yang akan ongkosnya mahal. Mikrobanking silahkan memanfaatkan layanan TI semaksimal mungkin. Tapi sisi praktis kegunaan lebih utama ketimbang orientasi life style.

Siti Nur Aryani, Konsultan TI pada Fokus Usaha Solusi Jakarta dan Pengajar Jurusan Akutansi FE UI

Sumber: http://www.lintasarta.net/NEWSROOM/Publikasi/Edisi3/Hal17/tabid/214/Default.aspx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s