Ponsel dan Konsumerisme


Masyarakat kini terus menerus dijejali berbagai keluaran produk terminal-terminal canggih terbaru ponsel biasa seperti PDA dan Smartphone, baik itu lewat iklan-iklan terbuka yang ditayangkan di televisi, internet dan media massa maupun melalui arus deras informasi yang menyisipkan iklan secara terselubung.

Akibatnya, sebagian masyarakat memang terpacu untuk memiliki ponsel-ponsel itu terlepas dari apakah mereka memahami betul fungsi dan manfaatnya atau (yang disayangkan) hanya termakan pecutan para trendsetter dan tergiur mengikuti pola gaya hidup mereka yang senang bergonta-ganti terminal.

Memang, logika industri apa pun umumnya selalu menciptakan produk atau jasa yang baru dan berbeda dari yang pernah diciptakan sebelumnya. Demikian pula dengan perangkat komunikasi seperti ponsel. Pada awalnya, pertama kali ponsel diciptakan sebagai alat komunikasi hasil dari perkembangan evolusi teknologi pager.

Tetapi kini yang namanya ponsel terus diciptakan salah satunya untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup atau nafsu konsumen (atau produsen) yang tak pernah terpuaskan. Sebuah ponsel bisa jadi ditenteng-tenteng bukan karena fungsinya sebagai alat komunikasi, namun sebagai simbol gaya hidup yang dicitrakan lewat asesoris yang menempel di tubuh. Sebagian orang menjadikan ponsel yang dibawa harus disenadakan dengan gaun, sepatu, jam tangan dan tas.

Sebagai contoh, di sebuah plaza di Jakarta dibuka sebuah butik yang menyediakan ponsel mewah hingga diberi istilah khusus luxury phone. Bagaimana tidak mewah, cangkang ponselnya saja terbuat dari semacam baja anti karat, platinum atau emas 18 karat. Layarnya terbuat dari kristal safir. Dan dibungkus dengan bahan kulit. Harga ponsel ini berkisar 34,6 hingga 51 juta rupiah. Konon, dari penjualan ponsel mewah ini di Singapura 50 peresennya adalah pembeli orang Indonesia.

Kenyataan ini menjadi lucu ketika ternyata sebagian masyarakat yang menggunakan baik itu ponsel mewah maupun ponsel berteknologi canggih hanya untuk komunikasi suara dan sms saja. Meski demikian tetap ada kelompok masyarakat kota besar khususnya mereka yang terbiasa mengakses internet memanfaatkan ponselnya justru lebih banyak untuk e-mail daripada komunika

Makin Beragam
Ponsel yang kini terus muncul memang makin canggih. Sepotong ponsel misalnya, kini tak cuma dimanfaatkan untuk berhai-hai. Fiturnya sudah makin beragam. Ponsel sudah memiliki kamera digital untuk memotret dan merekam gambar bergerak, organizer untuk mengelola jadwal kegiatan sehari-hari, program berbasis Java untuk berbagai aplikasi bisnis, bahkan sarana hiburan seperti games, radio, dan pemutar mp3.

Canggihnya lagi, ponsel dengan beragam fitur itu jadi punya fungsi komunikasi lebih, yaitu komunikasi data dan belakangan video on demand. Foto dan klip video hasil rekaman ponsel berkamera bisa dikirim via MMS (multimedia messaging services) ke ponsel lain. Atau lewat koneksi internet foto juga bisa dikirim ke alamat e-mail.

Ditambah berbagai dukungan teknologi seperti 3G; GPRS(general packet radio services) dan EDGE (enhanced data rates for GSM evolution) yang berkecepatan 170 kbps pengguna ponsel bisa leluasa menjelajah internet, mengirim dan menerima email, dari mana saja. Karena kecepatan transfer data yang makin cepat, lewat ponsel pengguna bisa men-download berbagai bentuk informasi, baik teks, gambar, foto, audio, bahkan streaming video secara realtime.

Untuk ponsel biasa, kecepatan 3G memang belum benar-benar diperlukan. Kecuali bila pengguna ingin menonton TV via ponsel misalnya. Tapi jangan salah, produk jenis ini belum muncul bahkan di luar negeri sendiri masih dalam proses sosialisasi. Mengutip Business Week No.49/II/19 Mei 2004, para ahli luar negeri itu memperkirakan kebutuhan ponsel jenis ini baru benar-benar dibutuhkan pada tahun 2005-2006. Maka menurut Hasnul Suhaimi Direktur Pemasaran Seluler PT Indosat, Indonesia paling membutuhkan lima tahun sesudahnya, sekitar 2009.

Dari data 20 ribu pelanggan yang mengakses layanan komunikasi data telkomsel perbulan misalnya, baru sekitar 1 persen pengguna yang memanfaatkan komunikasi data. Data ini menggambarkan kepada kita jika pengguna ponsel di Indonesia kebanyakan masih konsumen yang belum mengenal dengan benar fungsi dan manfaat produk yang dilemparkan ke pasar. Atau kemungkinan lain sebagian masyarakat kita suka menonjolkan kemewahan. ***

Oleh Siti Nur Aryani

Dipublikasikan di koran Sinar Harapan

http://els.co.id/archives/2005/09/ponsel_dan_kons.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s