Seluler yang Sarat Inovasi


Jumlah pengguna ponsel GSM di Indonesia saat ini baru sekitar 30 juta orang dari jumlah 220 juta penduduk
Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekira 5,2 persen didominasi PT Telkomsel. Adapun pengguna telefon tetap tanpa kabel (nirkabel) yang menggunakan teknologi CDMA baru menguasai 20 persen.
Para operator tampaknya semakin optimistis menggaet pelanggan baru. Hal ini disebabkan penduduk
Indonesia masih banyak belum menggunakan telekomunikasi seluler.

Berbasis inovasi

Seiring dengan makin banyaknya pengguna telekomunikasi bergerak, terlihat berbagai perkembangan layanan yang semakin inovatif. Kita lihat akhir-akhir ini, CDMA maupun GSM telah memberikan layanan data dan internet. Layanan seperti ini tentu akan membuka peluang bagi bisnis telekomunikasi tersendiri. Masyarakat butuh komunikasi yang serba baru dan serba canggih. Semakin canggih sarana komunikasi diciptakan, semakin bosan seseorang memakai layanan yang lama. Maka, inovasi paduan antara internet dan seluler sebagai sesuatu yang baru di Indonesia jelas mempunyai prospek tersendiri.

Sayangnya, sampai hari ini, tarif yang diberikan oleh operator masih mahal. Operator CDMA Telkom Flexi yang konon paling murah misalnya, masih teramat tinggi dalam mematok tarif, yakni Rp 5,00 per 1 kilobyte. Dengan tarif ini, orang tidak akan bebas mengunduh (download) informasi. Bayangkan, berapa biaya jika pelanggan mengunduh 50 ribu kilobyte dalam sehari saja?Terlebih jika operator GSM mulai memainkan perannya di generasi ketiga (3G) dan berinovasi melalui ragam layanan berbasis data. Kita ketahui bersama bahwa perkembangan telekomunikasi dipicu oleh pertumbuhan layanan berbasis protokol internet (IP).

Boleh dibilang, proyeksi ke depan, inovasi layanan baru akan tercipta berkat hasil konvergensi antara teknologi bergerak dengan jaringan nirkabel pita lebar (mobile broadband) atau teknologi berbasis IP.Dari sini kita bisa memprediksi, pelanggan perseorangan yang saat ini berusia di bawah 19 tahun akan berpeluang 4 kali lebih besar untuk menggunakan telefon 3G daripada 2G, sedangkan kategori usia 25 hingga 29 berpeluang 2 kali. Pengguna 3G ini pada umumnya adalah mereka yang terbiasa bermain dan bekerja dengan internet.

Oleh karena itu, pengguna 3G tentu lebih intensif dan banyak memanfaatkan layanan internet bergerak untuk mengirim dan menerima e-mail, memainkan game, atau sekadar surfing dibandingkan pengguna 2G.Kemajuan lainnya yang bisa dicapai berkat konvergensi 3G adalah peningkatan kecepatan daya unduh (download) dan streaming data. Penerapan konvergensi ini antara lain pada teknologi berbasis geographic positioning system (GPS) yang dapat diintegrasikan dalam perangkat rumah atau kendaraan. Atau pada aplikasi B2C (business to consumer) yang melakukan pencatatan pesanan secara online dengan pengiriman otomatis tanpa harus dilakukan transkripsi, panggilan telefon, pengisian formulir, audit manual, dan lainnya.

Dengan kata lain, komunikasi bergerak tidak lagi terbatas pada cara dua orang saling berbicara melalui telefon genggam, lebih dari itu termasuk pada perangkat bergerak yang dapat berkomunikasi dengan server perusahaan untuk mengambil lembar data, lembar pemesanan, catatan pengiriman, atau aplikasi sejenis lainnya. Informasi yang semula hanya tersedia melalui PC, kini tersedia bagi setiap orang melalui perangkat bergerak seperti telefon seluler, PDA, dan perangkat sejenis lainnya.Dari segmen “kelembagaan”, pasar telekomunikasi bergerak sedemikian besar potensinya. Hingga saat ini di Indonesia diperkirakan jumlah perusahaan kecil dan menengah mencapai 42 juta unit, dengan tenaga kerja sebanyak lebih dari 79 juta orang atau 98 persen dari total pekerja.

Hal ini membuktikan bahwa Indonesia adalah pasar usaha yang sangat potensial bagi penetrasi telekomunikasi bergerak. Belum lagi kalau kita menghitung jumlah perusahaan besar. Namun perlu diperhatikan, pasar pada segmen ini tidak semuanya memberikan peluang nyata dalam jangka pendek bagi operator karena pada umumnya hampir sebagian besar usaha kecil menengah memiliki kesulitan berinvestasi teknologi. Untuk alasan ini, maka diperlukan strategi khusus dari operator dalam mengidentifikasi pendekatan telekomunikasi bergerak pada segmen perusahaan. Langkah yang harus diambil di antaranya adalah melakukan identifikasi pengategorian orientasi; kira-kira kelompok mana yang bisa masuk dalam kategori ”pengadopsi” cepat, potensial jangka pendek, atau potensial jangka panjang?

Sisi konsumtif

Mungkin bisa dikatakan, penyelenggaraan telekomunikasi bergerak di Indonesia dari sisi perekonomian dan bisnis masih tidak terlalu jelas. Berbeda dengan para operator yang kini menguasai pasar, operator-operator ini memperoleh pendapatan tetap dari biaya berlangganan pengguna setiap bulannya. Khusus operator seluler, tampaknya lebih digerakkan oleh kebutuhan untuk pasar saham daripada refleksi keuntungan setiap saatnya. Meski demikian, sistem tarif yang ditetapkan oleh operator-operator tersebut cukup memancing gairah konsumtif bagi para pelanggan. Kondisi ini hampir sama dengan di Eropa di mana tarif untuk e-mail mahal, namun SMS murah.

Sementara itu, di Jepang berlaku sebaliknya.Pertumbuhan penyelenggaraan telekomunikasi baik oleh operator seluler maupun penyedia internet, bergantung pada sudut bisnis yang akan diambil. Jika berfokus pada hiburan, sejumlah porsi seperti nada dering, game, musik bergerak (mobile music), video bergerak (mobile video) yang banyak diminati kaum muda akan terus menampakkan pertumbuhan. Namun, bila dilihat dari belanja produk fisik, transaksi online, aplikasi perusahaan, dan perdagangan online, bisa jadi pertumbuhannya sangat spesifik dan sepertinya masih sangat lamban sebab sampai saat ini akses internet masih mahal tarifnya.

Lain dari itu, yang menentukan kelancaran penyelenggaraan telekomunikasi adalah peran konkret dari regulator telekomunikasi. Peran regulator sangat menentukan bagi kemajuan bisnis telekomunikasi bergerak. Setidaknya, Departemen Komunikasi dan Informasi RI sudah menetapkan standardisasi teknologi, produk, dan arah pengembangan telekomunikasi bergerak bagi perusahaan penyelenggara telekomunikasi. Lain dari itu, kebebasan pasar yang teratur juga diperlukan, termasuk memberikan perlindungan melalui undang-undang bagi konsumen.*** 

Oleh Siti Nur Aryani

Dipublikasikan di http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/ 2005/1005/06/cakrawala/lain03.htm

  

2 thoughts on “Seluler yang Sarat Inovasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s