Blog, dari Bualan Menuju Bisnis


Kebanyakan Anda tentu sudah mafhum dengan istilah blog (weblog), yang singkatnya merupakan situs berisi dokumen pribadi. Kini, siapa pun yang ingin punya blog hanya butuh beberapa menit untuk mengakses situs penyedianya dan membuatnya. Gratis dan mudah! Sebab, blog tidak mensyaratkan formalitas registrasi. Semua orang bisa membuat blog.
Tujuan orang membuat blog cenderung untuk sarana apresiasi pemikiran yang bersifat personal ke ruang publik. Ini tentu agak berbeda dari situs-situs dotcom yang biasanya digunakan sebagai sarana publikasi perusahaan ataupun organisasi. Kalaupun dotcom untuk publikasi diri, biasanya hanya mereka yang tergolong figur publik, seperti artis, direktur perusahaan atau politikus. Sementara situs blog kebanyakan dipakai oleh orang-orang kebanyakan.

Mungkin karena itu, blog selama ini kurang diminati banyak orang. “Ngapain baca tulisan orang yang enggak kita kenal,” ujar seorang teman. Tanggapan sinis seperti ini sesuatu yang wajar. Pasalnya, sebelumnya banyak blog yang isinya tak lebih dari iseng atau bualan belaka, seperti “Pagi ini gue kagak kuliah, males ama dosenku.” “Bah, buat apa kita baca catatan pribadi seperti ini,” kata temanku itu lagi.

Mayoritas isi blog yang sebelumnya kita kenal memang bukanlah hal-hal yang penting kita baca. Menurut penulis, kebanyakan blogger adalah pribadi-pribadi yang haus popularitas, atau mereka yang butuh pengakuan diri di ruang publik.

Namun, fenomena seperti itu sebenarnya bukan tujuan blog. Fasilitas blog sebenarnya multifungsi. Bisa untuk apresiasi ide ilmiah, diskursus pengetahuan, pemasaran, bisnis, dan lain-lain. Sayangnya, awal mula blog sebagai sarana bualan membuat para pemakai yang lain mengikuti pendahulunya.

Tak terkecuali di Indonesia. Kebanyakan blogger adalah orang-orang yang krisis eksistensi, butuh pengakuan diri, bahkan lebih dari itu, butuh perhatian. Tak mengherankan, kebanyakan blog jadi ruang curhat yang monolog. Sebab dari sekian banyak isi curhat yang ditulis, tidak ada penanggap. Ini membuktikan betapa blog hanya menarik bagi para blogger, tapi tidak menarik bagi pembaca lainnya.

Untungnya, fenomena di atas sekarang makin berubah. Di Amerika Serikat atau Eropa, ada fenomena lain mengenai blog. Banyak orang yang tidak asal membuat blog, tapi menuliskan banyak hal yang positif tentang ekonomi, politik, pendidikan, pengalaman kerja, pemasaran, dan lain-lain.

Di Indonesia, pengguna blog belum mencapai 200 ribu orang. Di jagat maya, kini sudah lebih dari 9 juta pengguna. Setiap hari, 40 ribu blog baru muncul. Artinya, dari sudut perkembangannya, blog adalah sebuah fenomena tersendiri.

Mulai banyaknya orang di AS dan Eropa tertarik membaca blog saat ini tidak lain karena blog bukan lagi sekadar sarana bualan konyol. Karena itu, kita sudah bisa menemukan blog yang berisi tulisan-tulisan bermutu, seperti artikel ilmiah, esai perjalanan, pengalaman kerja, bahkan analisis politik. Ada juga blog yang dijadikan sarana diskusi tentang pengalaman pembelian suatu produk, sehingga dengan membaca blog orang mendapatkan sesuatu yang berguna, minimal informasi.

Awalnya, dari sisi bisnis, para penyedia layanan blog masih harus bersabar menunggu kucuran dana dari para investor. Perhatikan saja, tahun 2004, secara keseluruhan perusahaan hanya menanam modal sebesar US$ 60 juta, padahal arus modal untuk dotcom pada 1999, sebagai bahan perbandingan, mencapai US$ 19,9 miliar.

Namun, semenjak blog dipakai untuk hal-hal yang bersifat positif, beberapa perusahaan penyedia layanan blog makin berkembang pesat. Iklan dan arus investasi masuk bak banjir bandang. Bahkan, raksasa Google pun tertarik berbisnis di dunia blog.

Baru-baru ini, Google menghadirkan program Adworks yang dengan jeli bermain dalam ruang blogger. Sehingga, seorang blogger secara personal kini dapat sekaligus meraup uang dari setiap klik iklan Google yang nampang dalam blog mereka.

Memang tidak semua blog serius menggarap soal bisnis atau pemasaran produk. Dalam banyak blog sekarang kita disuguhi hal-hal yang menarik seperti kajian dan pendapat para analis, kisah karyawan di suatu perusahaan, bahkan para selebriti kini lebih suka memajang informasi diri mereka di blog ketimbang situs dotcom.

Dari sini blog semakin menemukan identitas yang lain. Aktualisasi pribadi bukan sekadar curahan hati melainkan bisa jadi kisah-kisah unik yang tidak diberitakan di media. Seorang tentara AS yang bertugas di Irak, misalnya, dalam sebuah blog pribadinya mengungkapkan sisi kejahatan politik Pemerintahan George Bush. Berbagai tindak kekejian tentara AS di Irak diungkapkan secara detail dengan unsur human interest yang pekat. Tentu, masih banyak cerita personal macam ini yang bisa jadi pelajaran.

Di luar itu, fenomena blog politik juga tak kalah menarik. Baru-baru ini dikabarkan, Microsoft diminta menutup salah satu blog yang berisikan kritik tajam terhadap pemerintahan. Microsoft tentu saja mau melakukan perintah ini, sebab mereka hanya berkepentingan terhadap lancarnya bisnis. Dari sini kita tidak mempersoalkan hubungan Microsoft dengan pemerintahan. Yang menarik, ternyata blog telah menjadi media alternatif bagi masyarakat. Dengan blog, siapa pun bisa berbicara bebas terbuka tanpa sensor. Ini yang tidak bisa dilakukan di media konvensional.

Blog memang bersifat personal. Namun jika dimanfaatkan sebaik mungkin, ia bisa menjadi media alternatif. Isu-isu yang sifatnya personal selama ini cenderung terkurung, sebab media hanya mau memublikasikan hal-hal yang sesuai dengan kebijakan redaksi.

Hal-hal yang dianggap tidak aktual, atau bukan isu publik, bukanlah komoditas bagi media. Kita tidak akan bicara sebebas kalau kita bicara di blog. Dengan blog, semua pendapat bisa terungkap secara bebas. Dan, semua yang masuk dalam blog, akan bertahan selamanya di ruang Internet (selama tidak dihapus).

Nah, blog akan menjadi menarik di mata orang banyak ketika kita benar-benar menulis ide secara baik, informatif, dan pembaca mendapatkan sesuatu setelah membaca blog tersebut. Jadi, bukan sekadar membual, gitu lo.

Siti Nur Aryani
Konsultan TI dan Pengajar Teknologi Sistem Informasi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Publikasi: SWA 05/XXI/ 9 Maret 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s