Membaca Prospek Iklan di Internet


Hampir 1 miliar orang di dunia terhubung di internet. Pengguna saling berbagi ilmu pengetahuan, interaksi sosial, reputasi online, mencari materi sekolah, lowongan kerja, atau sekadar iseng menghabiskan waktu luang.

Integrasi ini semakin lama menjadi kekuatan kolektif yang belum pernah dikenal manusia sebelumnya, bahkan untuk sepuluh tahun yang lalu. Situasi ini nampaknya tidak berlebihan untuk disebut sebagai revolusi komunikasi dan informasi global. Gejala baru yang nampak menonjol adalah pemanfataan file-sharing, blog, situs yang dapat disunting beramai-ramai bernama Wiki dan layanan jejaring sosial seperti LinkedIn, MySpace serta Meetup Inc., yang membantu setiap orang-mulai dari penggemar kartun hingga pemburu ayat-ayat Al-kitab.

Teknologi semacam ini ternyata mampu mengangkat potensi unik internet dengan cara yang tidak dilakukan e-mail ataupun situs tradisional.Situasi yang dinamis tersebut tentu rugi jika disia-siakan oleh para pengiklan. Perusahaan yang cerdas akan selalu melihat celah-celah menyampaikan pesan kepada calon konsumen. Maka jangan heran ketika iklan televisi sering diabaikan pemirsa, maka dunia online menjadi salah satu alternatif.

Tahun ini, istilah video online sudah resmi menjadi “jenis kelamin” para pengiklan di internet. Video online menjadi semacam laboratorium untuk menemukan cara-cara baru agar produsen dapat tetap terhubung dengan para konsumen. Benar bahwa saat ini iklan di internet tidak sebanding banyak dengan iklan di televisi. Belum saatnya membandingkan nilai finansial keduanya.

Belanja iklan melalui video online sampai kini baru mencapai $198 juta, sementara belanja iklan di televisi mencapai $48 miliar. Tapi ini soal proses. Ke depan bukan mustahil angka belanja iklan video online akan mendominasi belanja iklan. Ini bisa dilihat dari hasil riset yang dilakukan riset eMarketer Inc., yang mengatakan pasar iklan internet berkembang pesat, terutama di kalangan kaum muda, yakni naik 33% menjadi $12,9 miliar pada tahun 2005. 

Menurut perusahaan riset comScore Networks Inc., situs mesin pencari mampu menarik 66% pengguna internet yang melakukan pencarian lokal, sementara data Yellow Pages hanya diakses 34% pengguna. Perusahaan riset Kelsey Group memperkirakan, sebelum tahun 2008, dana sebesar $3,8 miliar akan berpindah dari Yellow Pages ke iklan online.

Hal ini disebabkan Yellow Pages terkesan usang dan kuno. Pencari iklan dibuat susah dan membuang waktu banyak membolak-balik buku tebal hanya untuk mencari nomor telpon restoran atau agen tiket perjalanan. Melalui online, orang akan lebih mendapatkan informasi-informasi seperti itu.

Ada satu cerita; seorang pengusaha penggantian kain sofa Michael Jimenez di San Rafael California, telah memasang iklan di internet sejak Januari 2005 lalu. Sekalipun pada mulanya Michael agak sulit memahami konsep iklan di situs pencari, namun akhirnya ia percaya akan hasilnya. Dan ia pun berhasil menaikkan penghasilan mencapai 10% setelah banyak orang meminta jasanya. Akhirnya Michael merasa perlu mengurangi iklannya yang seperempat halaman di buku telepon. Dengan begitu ia bisa menghemat biaya iklan sebesar $500 yang dikeluarkan setiap bulan untuk Yellow Pages.(BusinessWeek 29/6)

Adalah Yahoo yang benar-benar memahami pangsa pasar iklan seperti ini di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Hongkong dan negara lain.Kini Yahoo sedang menguji teknologi yang disebut Mindset, sebuah program yang mampu menampilkan grafik yang memberi tahu Yahoo apakah pengguna internet sedang mencari produk atau sudah hampir membelinya.

Jika seorang calon pembeli obat herbal sedang mencari, maka ia secara otomatis akan mendapat info tambahan masuk ke link lain yang menginformasikan produk serupa. Jika pengguna sudah hampir membeli maka ia akan dihubungkan pada alamat apotek pengiklan obat yang ia cari.Setidaknya ada tiga hal yang membuat internet bisa menjadi alternatif pengiklan.

Pertama, kegemaran visual orang di internet selalu tertarik pada tayangan gambar-gambar baru dan unik. Dengan bebas materi iklan bisa didesain sedemikian kreatif, menampilkan sedikit teks dan menonjolkan simbol-simbol penuh pesan dan makna. Kedua, kenyataan membuktikan bahwa mereka yang gemar surfing di Internet memang suka melihat-lihat iklan yang tampil, terutama yang mengandung nilai hiburan dan estetika.

Ketiga, biaya pembuatan iklan online sangat mudah dilakukan, sebab banyak orang yang kini cerdas mendesain grafis. Peralatan untuk membuatnya pun tidak butuh jenis komputer khusus. Lebih murah lagi, ternyata jaringan komunitas di millist biasanya senang mengirim hal-hal yang unik-tak peduli iklan atau tidak- kepada teman-temannya. Ini sesuatu yang positif bagi pengiklan, sebab dengan sendirinya iklannya tersebar luas secara gratis.

Google misalnya, melalui mesin pencarinya Google Inc., secara tidak langsung berhasil mengumpulkan penilaian kolektif jutaan pencipta halaman situs guna menentukan hasil pencarian paling relevan. Dalam prosesnya, Google membuat sebuah pasar senilai miliaran dolar bagi iklan-iklan terarah, yang menyedot pemasukan iklan majalah dan surat kabar.

Langkah-langkah perusahaan tersebut ikut mengguncang industri teknologi lain, termasuk dunia hiburan, penerbitan dan periklanan. Di Hollywood misalnya, kini sedang mengalami bombardir dari 100 juta orang yang berbagi lagu dan film secara online melalui program seperti Kazaa dan BitTorrent.

Menurut laporan Abriton Inc. dan Edison Media Reasearch, 20 juta penonton online mengklik video setiap minggunya. Angka tersebut mendekati jumlah pemirsa American Idol, acara unggulan Fox Broadcasting Co.            Semilyar manusia yang terhubung ke dunia internet memang potensial bagi pasar iklan di bumi ini. Yang menjadi masalah tentu bukan lagi soal berapa jumlah pemirsa. Internet jelas mempunyai pangsa pasar yang tak terbatas.

Masalahnya sekarang adalah, bagaimana pesan-pesan iklan tersebut bisa sampai dan benar-benar menarik perhatian pemirsa? Dunia internet kita kenal sebagai dunia cepat, pengguna bisa dengan mudah mengabaikan sebuah pesan, kecuali jika pesan tersebut memang yang mereka cari atau tak sengaja didapatkan namun menarik perhatian.

Memasuki kawasan internet kemungkinan besar pasar bisnis berubah dalam waktu cepat dan menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia yang kini jumlah pengguna internetnya baru mencapai 16 jutaan. Dalam gelombang bisnis internet (e-business) ini, para pemain online menjual komoditas seperti buku, musik, atau perdagangan saham. Konsumen tak perlu lagi melihat, memegang barang yang bakal dibeli, sebab yang terpenting adalah tahu harga dan kualitas barang.

Yang terpenting dari transaksi adalah pelayanan baik, kesepakatan harga dan saling menjaga kepercayaan. Prospek periklanan di pasar online membuka kesempatan yang lain, baik bagi perusahaan kecil, besar maupun korporasi, termasuk membuka kesempatan para calon konsumen untuk berinteraksi. Iklan online menjadi semacam pasar domestik yang menglobal.

Kehadirannya bisa mengancam eksistensi pasar iklan media cetak, bahkan ke depan pasar iklan televisi bisa tersaingi. Namun semuanya ditentukan oleh sedikit-banyaknya pengguna internet. Untuk Indonesia, potensi seperti di atas masih perlu menunggu waktu.***

Oleh Siti Nur Aryani

Dipublikasikan di majalah SWA Edisi Mei 2006 (Detail baca di edisi cetak)

2 thoughts on “Membaca Prospek Iklan di Internet

  1. Untuk promosi online di internet, silahkan hubungi kami untuk info lebih lanjut di 425 2263 atau HP 021-68 608 700 dengan Mr. Herwandi. Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s