Saatnya Home Industri Berbasis TI


Kerja kantoran; status pegawai, fasilitas kendaraan, alat komunikasi, gaji rutin bulanan, sehari-hari dandan mentereng. Ini adalah gaya khas pekerja di era modern, terutama para pekerja di metropolitan  seperti Jakarta. Namun, kini kita sudah masuk era post-modern atau pasca modern. Masihkah memimpikan hidup dengan pola usang? Teknologi berkualitas tinggi, atau yang biasa disingkat hi-tech telah mengubah secara revolusioner pola hidup kaum post-modernisme.

Source: Horse and Pony Magazine

Teknologi, terutama komunikasi dan informasi bukan sekadar gaya orang gaul yang ingin dianggap keren. Internet dan telepon berbasis hi-tech adalah perangkat kerja manusia yang sadar akan perubahan. Artinya, hi-tech bukan sekadar pengubah gaya hidup melainkan mampu mengubah nasib ekonomi, bahkan nasib hidup seseorang.

Mungkinkah hal ini bisa kita praktekkan? Yang tidak mungkin hanya bagi mereka orang-orang yang tidak beradaptasi dengan hi-tech. Memang, kebanyakan orang Indonesia masih sebatas memahami dunia hi-tech sebagai barang mainan, atau sekadar aksesori jalan-jalan dan pamer gaya.

Dari negeri seberang

Di Amerika Serikat, negeri yang paling cepat transformasi teknologi informasi dan komunikasinya sudah ada sekitar 34 juta orang bekerja berbasis home-industri. Artinya mereka mengandalkan internet dan telepon canggih untuk mencari nafkah. Di Inggris terdapat sekitar 8,6 juta orang. Di Jepang sekitar 5 juta orang benar-benar merasa nikmat bekerja tanpa harus masuk kantor dan getir menunggu gaji. Di Korea Selatan sekitar 1,2 Juta orang berani meninggalkan statusnya sebagai karyawan, memilih kerja di rumah. Di Indonesia? Negeri ini memang masih tergolong status-quo, konservatif, lebih tepatnya gaptek, alias gagap teknologi.

Sudah sepuluh tahun lebih internet masuk ke Indonesia, namun wajah industri nasional belum banyak berubah. Mereka yang berani berwira usaha mandiri berbasis internet belum mencapai 100 ribu orang. Bisa jadi disebabkan infrastruktur yang belum bagus. Internet canggih memang sudah bisa dinikmati kaum perkotaan seperti Jakarta, Bandung dan
Surabaya. Hanya saja pelanggannya adalah perusahaan-perusahaan kelas atas, sedikit kelas menengah.   

Pelanggan personal internet untuk aktivitas kerja 24 jam belum terpenuhi. Sebab tarif internet sangat mahal. Tak cukup itu problemnya. Hampir semua perusahaan layanan jasa internet  baik yang dikelola negara maupun swasta belum melayani konsumen secara baik. Kelambanan koneksi membuat banyak waktu kerja terbuang. Ini adalah akumulasi persoalan; penetrasi internet lamban, biaya mahal, layanannya pun super buruk. Belum lagi kalau kita bicara kultur masyarakat kita yang belum terbiasa berkomunikasi dan berinteraksi melalui hi-tech.

Kebanyakan orang di negara dunia ketiga juga belum menganggap Teknologi Informasi dan Telekomunikasi sebagai sarana fundamental untuk kerja, melainkan masih sebatas dianggap sebagai sarana biasa penghubung komunikasi. Padahal kalau kita punya visi bisnis yang baik, internet akan memberikan kesempatan untuk mengubah kehidupan manusia, bukan sekadar membantu.

Di jagat maya, hadirnya alat komunikasi canggih murah semacam Skype misalnya, sangat membantu menghubungkan satu orang ke orang lain lintas negara dengan biaya murah. Begitu juga hadirnya file-sharing, blog, dan layanan jejaring sosial menghubungkan orang secara simultan. Ini adalah fenomena kolektivitas baru dalam dunia internet.

Home Industri mengguncang kemapanan

Kolektivitas industri kecil, di mulai dari home-industri sampai usaha kecil berbentuk PT atau CV telah menantang kemapanan industri besar. Korporasi yang terlalu kaku benar-benar merasakan dampak besar guncangan. Banyaknya layanan jasa pekerja individual maupun kolektif kecil semakin lama berani berkompetisi dengan pelanggan khusus yang memiliki kemampuan bergabung secara online. Kemampuan pekerja home-industri ini jelas mengurangi akses korporasi kepada pelanggan.

Secara historis fenomena ini mempunyai akar sejarah gerak transformasi masyarakat modern. Kita masih ingat bagaimana dua abad lalu mesin uap karya James Watt memicu revolusi industri besar-besaran di Eropa dan pada akhirnya mengembang ke seluruh penjuru dunia. Hanya saja mesin uap karya James Watt hanya bisa digunakan oleh industri bermodal besar. Kini komputer, internet, dan telekomunikasi, termasuk piranti lunak mudah digunakan siapa saja.

Ada indikasi korporasi-korporasi yang tidak ikut bertransformasi melihat perubahan akan segera menyandang predikat status-quo. Sebuah sindiran media massa yang sedang giat-giatnya memberitakan beberapa perusahaan besar yang akan segera mati. “Yang status-quo enyahlah”, kira-kira begitu slogan para bisnisman baru yang sedang giat-giatnya membangun basis usaha baru setelah mereka melepaskan status dirinya sebagai karyawan atau manajer perusahaan.

Memilih kerja di rumah dengan memanfaatkan internet dan telekomunikasi canggih adalah pilihan terbaik para pekerja yang cerdas di masa sekarang. Selama ini mereka memang sudah menikmati hi-tech di perusahaan mereka bekerja. Semua serba mudah. Komunikasi dengan majikan kapan pun bisa dilakukan. Sekadar mencuri pulsa untuk menghubungi teman, pacar atau keluarga bisa dilakukan dengan fasilitas kantor. Tapi karyawan juga manusia. Mereka butuh kebebasan dan selalu berusaha menentang kemapanan. “Rutinitas” dan kejumudan beraktivitas adalah musuh utama manusia-manusia kreatif.

Kenapa masih mau jadi karyawan?

Maka, ide baik pun muncul; “bekerja untuk diri sendiri apapun alasannya lebih baik ketimbang untuk orang lain. Apalagi jika perusahaan  tempat mereka bekerja sangat ketat dan kaku menerapkan aturan.” Kebebasan memang selalu menjadi primadona. Semua orang inginkan itu. Fenomena di atas akan saya perlihatkan dalam penjelasan begini; perusahaan-perusahaan yang telah mengadopsi hi-tech akan sangat banyak diuntungkan, sebab karyawan secara otomatis akan selalu terhubung pada urusan kerja.

Biaya perusahaan juga semakin efisien. Namun, jangan dikira beban kerja karyawan makin ringan. Mereka diberikan fasilitas teknologi mobile, yang kapan pun bisa dihubungi untuk mengerjakan instruksi kerja sang majikan. Kalau sudah begitu, hi-tech hanya memudahkan para majikan, sementara karyawan justru semakin sibuk. Tragisnya, gaji tak naik. Sangat ironis kalau kemudian hi-tech justru membuat pekerja semakin banyak memeras tenaga. Waktu istirahat kurang. Saat sedang liburan terpaksa harus memikir, bahkan mengerjakan pekerjaan di luar jam kerja karena pesan sang majikan selalu menyusup di ponsel maupun laptop mereka.

Jelas, ini adalah gelagat adanya penindasan bentuk baru. Perusahaan untung oleh efisiensi penerapan hi-tech, sedangkan karyawan semakin tereksploitasi. Kalau sudah begini, kenapa tidak menciptakan pekerjaan sendiri? ***Siti Nur Aryani – Dipublikasikan di Majalah SWA No. 10/XXII/18-31 Mei 2006

31 thoughts on “Saatnya Home Industri Berbasis TI

  1. Dear Ibu Siti Nur Aryani,
    saya terkesan dengan artikel ini, namun sayang sya sudah tidak dapat memperoleh majalahnya lagi.

    Apakah memungkinkan bila saya ingin minta bantuan Ibu untuk mengirimkan artikel diatas ke alamat e-mail saya?

    Untuk bantuannya saya ucapkan terima kasih.

    Hormat saya,
    Jimmy Kurnia Indradjaja

  2. Terima kasih.

    Bung Jimmy, artikel-artikel yang ditampilkan dalam blog ini saya ambil dari edisi cetaknya. Jadi isinya sama persis. Silakan inilah artikelnya. 

  3. Jadi inget pernah ga bisa tidur tenang karena selalu di ganggu telpon bos galak yang bolak-balik nanya perkembangan terakhir, HP jadi kutukan yang sangat tidak menyenangkan. hiiiiy.

    Sepertinya asik juga tuh kalau bisa usaha dari rumah modal HP dan Internet. Tapi kerja apa ya? Ada saran?

  4. Semua karyawan dan punya HP hampir mengalami hal tersebut. Tapi itu risiko kerja dan berelasi antara majikan dan pekerja. Tak ada yang salah kok asal suka sama suka dan butuh sama butuh. Bos butuh karyawan dan karyawan butuh kerja. Tapi menurut saya, kecenderungan “intervensi” majikan kepada karyawan di luar jam kerja itu tetap dipersoalkan. Saya kira semua harus sadar dan paham tentang kesepakatan jam kerja setiap harinya. Kalau memang delapan jam, maka di luar itu agaknya intervensi tentang pekerjaan tidak boleh dilakukan oleh bos. Tapi seandainya si bos sekadar tanya informasi ala kadarnya, sejauh tidak merepotkan karyawan saya kira itu wajar-wajar saja. Yang penting jangan sampai komunikasi via ponsel itu merepotkan. Tujuan dari artikel di atas tujuannya adalah agar kita sadar bahwa posisi karyawan itu bukan final, melainkan sebagai proses menuju udaha kreatif dan mandiri. Bahwa kebebasan adalah bagian terpenting dari kehidupa ini.
    Usaha apa? Prinsipnya, kerja yang Anda cintai. Kerja tanpa mencintai apa yang kita lakukan akan mudah menjemukan. Padukan antara hobi dengan kerja. Mengerjakan hobi yang menghasilkan. Ini adalah soal produksi, maka produksi apapun bisa dilakukan sejauh kita melihatnya sebagai sesuatu yang menjanjikan.

    sekian
    terimakasih
    Aryani

  5. Pasti bagus kalau mantan bosssssss saya baca reply itu:P Udah nelponnya jauh diluar jam kerja, isinya pembicaraannya selalu bonus katarsis pula. Memang butuh sama butuh sih, karyawan butuh duit, si boss selain butuh buruh juga butuh pelampiasan depresi, hihi.

    Bahwa kebebasan adalah bagian terpenting dari kehidupa ini.

    Setujuuuuu, selain kebebasan finansial, tentu termasuk kebebasan untuk menulis blog😀
    *Pegang obor dalam remang kehidupan:”Kebebasan! dimana kau?”*

  6. wah, setuju sekali sama bisnis rumahan berbasis IT, tapi ya gimana lagi, kita seringkali takut sih kalau bisnis begitu nanti penghasilannya tidak teratur. padahal dapurnya kan harus teratur ngepul? bagaimanapun, tulisan ini sangat mencerahkan.

  7. Saja setoedjoe bersama bapak pentjipta blog ini.

    Saja sendiri berdjibaku dengan usaha mandiri berbasis online, bisa diperiksa lewat blog saja.

    intinya, saya setuju banget dengan usaha rumahan berbasis IT ini. Saya sendiri sudah merasakan manfaatnya dan menjalankan sudah lebih dari dua tahun.

    salam buat semuanya, selamat mencoba usaha online

  8. terima kasih atas infonya, namun jenis usaha apa yg bisa dilakukan karena trus terang kadang kita takut untuk mengikuti apa yang ditawarkan orang dg bisnis online contohnya. klo ada saran kirim ke email saya aja makasih.

  9. mohon di bantu, untuk memilih usaha yang lagi baik prospeknya, dengan modal relatif kecil ,dan kalau bisa yang ber orientasi export, terimakasih bagi yang mau menolong.

  10. kalau boleh, tolong Bu saya diberi saran apa usaha yang lagi baik prospeknya, dengan modl relatif kecil, apakah home industri yang berbasis domesti atau export. Saya lagi bingung,
    terimakasih.

  11. oke punya nih! kalao bangsa kita sebagai bangsa yang termasuk status-quo , padahal presiden kita doktor lho ! dan banyak lagi doktor, master dan profesor dinegeri ini kok ! cuma semua itu karena mereka-2 itu materiaistik ( tapi ya nggak apa sih habis biayanya juga mahal kok) tapi kalao semua harus mahal, ya mana mungkin menjangkau kalangan bawah! sedang kalangan bawah itu untuk makan besuk aja bingung kok! oleh sebab itu perkembangan hi-Tech itu harus diimbangi dengan kesejahteraan masyarakatnya dulu ( Minimal standart kebutuhan minimum tercukupi). Padahal dinegeri yang katanya para pakar! ekonominya membaik ini, Kemiskinan semakin meningkat ! Nah kalao begini yang perlu dibenahi apa dulu dong ! Waduh bingung mbak Ariyani! Yo wis ikutan cobalah barangkali mujur ! Amin

  12. aku suka bget baca artikel ini, ya mgkin memang saat ini yang tepat buat kita memulai sesuatu kegiatan usaha. dimulai dari rumah sendiri. dan yang pesti dari sini kita akan salaing bisa memberi ide2 kita. jd saya ingin kita bisa saling mengisi dan membertukar ide diantara ki ta

  13. Yang penting ya… persiapka diri masing-masing dan ngak bergantung sama orang lain. Jadi kalau menurut saya persiapkan diri dari sekarang atau jadi penonton saja setelah melihat orang lain sukses atau orang lain minimal sudah berjalan dengan USAHANYA.

    SOOO……. Ada baiknya kerja sendiri harus dipikirkan dari sekarang..

    Saya Kagum melihat para Customer saya yang hanya modal 1 juta atau 500 ribu mau mencoba.
    Contoh :
    Customer saya ngumpulin bekas sarung tangan di pabrik-pabrik yang ngak kepakai terus dia datang ke Counter saya di Cikarang PT.BRATACO . Pak buatin formula untuk bersihin ini sarung tangan pabrik, saya kasih formulanya sampai 2/3 kali coba. SEKARANG SUDAH BERHASIL …!!!!
    Contoh Lagi NIIIhhhhhhhh…..
    Customer saya datang ke Counter PT.BRATACO CIKARANG dia nanya pa Bagaimana cara Buat SNOWWASH buat cucian mobil tapi yang banyak busanya. Saya tanya bapak Udah punya tempat Cucian, katanya saya sedang mau coba. Akhirnya saya kasih formulanya sampai 4/5 kali bolak-balik sampai ketemu formula yang TOOOPPPPP.
    Sekarang dia sudah Punya CUCIAN MOBIL yang SNOWWASH di Cikarang.

    Sementara saya hanya memberikan saran-saran saja, akhirnya harus berpikir TERNYATA BIDANG USAHA ITU BANYAK KALAU MAU DITEKUNIN

  14. saya sangat terkesan akan email ini dan setuju atas ide untuk menerapkannya jika bisa di kirimkan melalui email saya. terimakasih. rai, batam

  15. saya warga Brebes yang mempunyai permasalahan. yang pertama di daerahku bayak sekali bawang tp penangananya blm maksimal . yang kedau aku lagi nangani penanaman kacang koro pedang yang mungkin ada 100 ton juma aku blum tau pemasaranya bagi siapa saja yang bisa carikan solusiya saya ucapkan trima kasih

  16. saya mau jual lebah gede (tawon endas) yang menggantung dipohon jambu air di belakang rumah. sudah di bakar tetap gak mau pergi, sekarang bertambah jadi dua sarang dalam satu pohon itu. Saya yakin lebah itu ada manfaatnya bagi kesehatan manusia, hanya belum ada yang meneliti karena perlu sponsor

  17. saya sangat tertarik banget dengan artikel nya ibuk yg komonikatif dan motivatif. jujur saya seorang swasta yang hasilnya tidak tentu. klo digambarkan input > output pusing buuk tiap bulanya…
    tolong buuuk aryani mohon di bantu, untuk memilih usaha yang lagi baik prospeknya, dengan modal relatif kecil ,dan kalau bisa yang ber orientasi export, ke email aja y buuk…trimakasih banyak sebelumnya

  18. bagi yang sudah berpengalaman di bidang ini, bagi-bagi info donk tentang macam-macam usaha yang mungkin bisa kita lakukan, terutama di daerah kota kecil or di desa. thanks infonya

  19. buat mas dedy yang coment dr brebes. Saya tertarik dgn koro pedang anda. karena saya juga menanam dan tahu pemasarannya. bagaimana saya menghubungi mas??? ato mas coment dulu di blog saya.

  20. bagi yang sudah berpengalaman di bidang dunia hi-tech ini, bagi-bagi info donk tentang macam-macam usaha yang mungkin bisa kita lakukan, thanks infonya

  21. thanks ya infonya ::

    saya mao mulai berbisnis online,, cuman kemana ya saya harus belajar mengenai marketing online gini,,, thakns infonya… tolong hubungi saya di 021-68666886,,, 08128268368

  22. Benar juga and tanks atas infonya,btw kebanyakan susah tuk memulainya dan caranya,termasuk seperti apa bentuknya?
    minta arahan dan petunjuknya.
    Tanta_Medan

  23. cakrawala berfikir saya jadi sedikit terbuka setelah membaca artikel Ibu, cuma saya masih bingung, dalam artikel ibu tidak di sertakan contoh maupun cara-cara menerapkan IT dalam home industri,terus terang saya pribadi masih belum mengerti seperti apa mekanismenya, jadi kalau bisa tolong di uraikan dengan detail semua itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s