Selain Cina, Kita Patut Belajar dari India


Kemajuan Teknologi Informasi-Komunikasi

Sadar bahwa negeri kita serba tertinggal dari laju perkembangan industri dan modernisasi, para pengamat globalisasi selalu mengajak kita belajar dari negeri Cina. Bukan karena hadist nabi, “belajarlah sampai ke negeri Cina” yang memprovokasi kita, melainkan karena di negeri Tirai Bambu itu perkembangan pesat sedang terjadi. Memang, pelajaran revolusi industri dan ekonomi yang telah mengantarkan negeri Cina sebagai kekuatan Negara adidaya itu patut kita pelajari.

Tapi ada baiknya kita belajar dari negeri selain Cina. India patut kita lirik. Baik cina maupun India, statusnya sama dengan Indonesia, yakni negara dunia ketiga, atau bahkan bisa dikatakan sebagai negara terbelakang. Bedanya dengan Indonesia, Cina danIndia sudah melaju meninggalkan keterbelakangannya, minimal dalam bidang ekonomi, pendidikan dan industrialisasi. SementaraIndonesia nyaris belum punya batu pijakan untuk melakukan loncatan, pun dalam satu bidang misalnya, teknologi-informasi dan komunikasi.

India telah menjanjikan masa depan yang lain dalam bidang ini. Sejak Industri
India terbebas dari pembatasan pada tahun 1991, berbagai perusahaan semakin mempercepat proses inovasi pada sisi keterjangkauan harga dan kualitas. Sebagaimana laporan BusinessWeek (7/9) Perusahaan Bharti, operator layanan seluler terbesar India yang memiliki 12 juta pelanggan dan menguasai 22% pangsa pasar sampai tahun 2005 ini mampu menghasilkan laba bersih $330 juta dari penjualan $ 1,8 miliar untuk tahun fiskal yang berakhir maret 2005 lalu.

Pada Februari 2004 lalu, Bharti tergolong sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia yang terus-menerus melakukan manuver secara radikal. Perusahaan itu menyewakan seluruh jaringan selulernya kepada tiga produsen ponsel; Ericson, Nokia, Siemens dalam sebuah kesepakatan selama tiga tahun senilai $725 juta. Bharti menjadi andalan transformasi perkembangan telekomunikasi di
India bukan semata karena kemampuan mengeksekusi visi perusahaan; yakni memikirkan cara mengelola aset, mendistribusikan produk, dan menggunakan teknologi untuk layanan baru. Bharti berkembang karena regulasi pemerintah
India yang cerdas dan tepat sasaran dalam hal mengelola prospek teknologi.

Hal ini yang membedakan secara kontras dengan Indonesia, di mana pemerintahannya tidak mempunyai visi yang jelas tentang teknologi-informasi dan komunikasi. Inovasi yang terus berkembang di India membuat banyak Negara lain kepincut. Kita patut bertanya, faktor apa yang membuat India mempunyai ciri khas inovatif tersebut?

Secara umum, perusahaan-perusahaan di India belajar secara mendasar dalam mempertanyakan konsep dasar industri mereka. Ini adalah suatu sikap yang lahir berkat pengalaman kolektif selama beberapa dasawarsa, setelah mencapai kemerdekaan pada 1947, India menerapkan pembatasan ketat terhadap besar modal perusahaan, teknologi yang bisa mereka impor, dan mata uang asing yang boleh mereka simpan. Dengan begitu, perusahan-perusahaan terbaik bisa mempelajari bagaimana mengembangkan solusi inovatif dan berbiaya murah untuk mengatasi masalah dan bahkan membayangkan ulang industri seperti peranti lunak.

Berita lain yang tak kalah menarik adalah, peranan investor asing yang bisa dengan mudah bergerak ke sektor pertanian. Para investor tidak hanya mudah mendistribusikan bibit-bibit pertanian, melainkan juga mudah memberikan solusi yang efektif bagaimana penggunaan teknologi bagi para petani. Dari sini kita melihat, birokrasi pemerintahan yang biasa menjadi hambatan, tidak banyak terjadi di
India. PT Indian Tobacco. Co (ITC) misalnya, secara agresif berupaya terus menghapuskan peran agen (calo) yang membeli, mengangkut, dan memasarkan produksi para petani India yang eksploitatif. Inisiatif dari ITC adalah mempersiapkan kios komputer di 20 desa dan memperkerjakan petani lokal yang cukup kapabel dalam menjalankan usaha pada kios-kiosnya.

Dampak positifnya, pekerja ITC dan para petani bersamaan bisa mengakses internet untuk mengecek harga penawaran produksi, juga harga-harga di pasar-pasar desa terdekat, dari ibukota New Delhi, bahkan para petani bisa mendapatkan akses harga komoditas di negeri lain. Jika malam hari, anak-anak petani diperbolehkan mengakses internet dengan bimbingan para orang tuanya. Dari sinilah peranan teknologi informasi berhasil memerangi calo yang eksploitatif dalam memasang tarif.

Sisi lain yang patut kita pelajari dari India adalah soal perkembangan pendidikan teknologi bagi anak-anak sekolah. Di New Delhi, India punya sekolah Indian Institute Teknologi (IIT) yang telah banyak melahirkan para jenius dalam hal teknologi. Sebagai sekolah favorit, IIT menjadi rebutan para calon mahasiwa di India. Efeknya domino yang terjadi adalah pembukaan sekolah-sekolah visioner lapis kedua setelah IIT sebagai penampung calon siswa yang tidak diterima di IIT.

Memang, sekolah-sekolah lapis kedua tidak seekseklusif MIT. Tapi daya serapnya cukup tinggi. IIT sendiri hanya mampu menampung 2% dari 200.000 calon mahasiswa yang mengikuti tes masuk setiap tahun (paling banter, tujuh kampus IIT meluluskan 3.000 orang pertahun). Sebaliknya, pada tahun 2005, sekolah-sekolah teknik lapis kedua bisa mencetak hingga 2007.000 lulusan untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja terdidik. Di India sendiri kini ada sekitar 2.240 sekolah tinggi teknik yang 55% di antaranya dikelola negara. Ini kita belum menghitung sekolah-sekolah ekseklusif swasta yang akhir-akhir ini tumbuh menjamur di kota-kota besar
India.

Dari sini kita bisa melihat bagaimana perusahaan, masyarakat dan kemauan negara melihat prospek teknologi sebagai pilar ekonomi dan pendidikan bangsa. India, demikian halnya dengan Cina jelas menjadi cermin bagi negara terbelakang seperti
Indonesia. Globalisasi yang terus memojokkan masyarakat terbelakang seyogianya tidak perlu kita usir dengan berbagai slogan penolakan.Sebelum menuju jurang keterdesakan, sebaiknya pemerintah Indonesia mau belajar dan percaya kepada para tenaga profesional untuk membicarakan masa depan teknologi Indonesia. Sudah saatnya pemerintah tidak menganggap para teknokrat di luar pemerintahan sebagai musuh karena kritik-kritiknya.

Kita butuh kesadaran bersama untuk mengaca diri dari negeri lain demi kemajuan bangsa ini. Belajar dari Cina maupun India sangatlah berarti. Tapi lebih berarti lagi jika kita mau belajar tentang kesalahan-kesalahan yang dilakukan pemerintah dalam mengelola negara, khususnya yang berhubungan dengan urusan teknologi.*** (Siti Nur Aryani)

7 thoughts on “Selain Cina, Kita Patut Belajar dari India

  1. Saya suka dengan judul blognya, “pencerahan,” yang memang sedang kita butuhkan sekarang. Orang bijak mengatakan tiada kata terlambat untuk belajar. sebenarnya banyak hal yang memang harus dipelajari dari India, tentang bagaimana mereka mengundang investor, membuka pasar mereka untuk persaingan, sistem pendidikan yang kompetitif, dll. Jadi, jika dua raksasa di Barat dan Timur Asia, (India dan China) sudah bangkit, kenapa yach raksasa (dalam arti penduduk)satunya di Tenggara Asia tetp senyap dan tertidur lelap.

  2. Terima kasih mas. Kata ini awalnya pemberian suami, tapi sejak dia cetuskan untuk nama blog ini jadi salah satu sumber kebahagiaan kami. Maknanya “pencerahan” memang sangat dalam.

    Apa pembahasan khusus tentang belajar dari India dan China pernah mas Thamrin dkk selenggarakan demi kontribusi perubahan di negeri kita?

  3. Pembahasan secara menyeluruh menyangkut aspek pendidikan, sosial, budaya, teknologi, dll memang belum, hanya yang menyangkut aspek ekonomi, karena sektor ini yang paling nampak dan menonjol, terutama yang menyangkut investasi dan pertumbuhan ekonomi mereka. Soal ini memang salah satu fokus saya. Saya baru kembali dari suatu seminar di Malaysia, mengenai free trade dan pertumbuhan ekonomi. Ada berbagai pengalaman yang dipertukarkan, baik dari Indonesia, Malaysia, maupun peserta dari India maupun China. Cukup menarik. Beberapa presentasi mereka dapat diakses pada situs http://www.kedai-kebebasan.org/ maupun http://www.fnfasia.org/efn/ Cukup layak untuk dilongok saya kira.

  4. wah kalo yang sifate materialitis..tis ja, percuma
    pernah lihat filmnya yang bintange mas-mas RAIHAN dari malaysia?
    judulnya SYUKUR 21…

  5. negara yang paling pas untuk kita benchmark soal Visi Telekomunikasinya adalah Singapore. Visi 2015 yang roadmapnya dibuatnya pada tahun 2005 yang lalu menunjukkan keseriusan Pemimpin Negara tersebut akan arti pentingnya infocomm bagi kemajuan ekonomi sebuah negara. Bagaimana dengan Visi Pemimpin kita ?

  6. Dalam hal ini, India adalah salah satu contoh negara yang berhasil dalam penyediaan buku-buku dan literatur berharga murah ini. Melalui publisher (penerbit) internasional yang bekerja sama dengannya, India mencetak buku-buku referensi asing di dalam negeri dengan harga yang murah. Hal ini tentu sangat mendukung upaya meningkatkan minat baca anak anak dan pelajar. Indonesia bisa belajar dari pengalaman India dalam memanfaatkan brain drain untuk memajukan negaranya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s