Indonesia Software Localization and Translation

Prospek Pekerja TI di Indonesia


Ada anggapan, memilih studi dalam bidang teknologi informasi (TI) memiliki nilai lebih ketimbang bidang lainnya. Terutama untuk mencari pekerjaan dan meraih gaji tinggi setelah kelulusan. Memang, asumsi ini ada benarnya, karena pada dasarnya perusahaan di masa kini sangat membutuhkan tenaga TI. Hal ini juga tidak lepas dari keahlian teknis dan tanggung jawab tenaga TI untuk menunjang operasional bisnis perusahaan, bahkan tak jarang terlibat secara penuh 

Akan tetapi, untuk urusan gaji, sebenarnya agak berlebihan jika profesi ini disebut-sebut bergaji lebih tinggi ketimbang profesi di bidang lain. Tahun 1994-1999-an seorang lulusan baru sebagai pekerja penuh waktu (full-time) dengan profesi setaraf programmer, analis sistem, administrator sistem, administrator jaringan, administrator database, dan sebagainya, memperoleh kisaran penghasilan bersih rata-rata antara Rp. 2,2 – 2,8 juta per bulan. Sementara bagi pekerja paruh waktu (part-time) upah yang diperoleh di kisaran Rp.100-250 ribu per jam. Upah ini biasanya akan bertambah di tahun berikutnya atau pada perpanjangan kontrak selanjutnya.

Untuk ukuran Indonesia, nilai gaji lulusan baru untuk profesi TI di atas memang cukup tinggi dibanding dengan pekerja lulusan baru dari profesi lain. Namun demikian, nilai upah tersebut tetap saja masih tergolong rendah dibanding upah di negeri-negeri maju. Yang jelas, anggapan profesi TI dengan gaji tinggi sempat ramai dan diyakini masyarakat, bahkan memperoleh perhatian serius dari kalangan pengusaha bisnis pendidikan.

Tak heran sejak 1999 marak bermunculan lembaga pendidikan dan sekolah tinggi komputer untuk program D-1, D-3, dan S-1. Bahkan sejak Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia ditetapkan menjadi BHMN, perguruan tinggi ini pun seolah tidak ingin kalah berbisnis dengan cara mendirikan program-program serupa.

Sesuai hukum pasar, semakin banyak ketersediaan sumber daya manusia maka nilai jualnya kian turun. Seorang programmer lulusan baru bahkan kini rata-rata hanya dihargai Rp. 1,2-1,8 juta per bulan. Perkembangan sistem object oriented dan embeded modul sekarang memang memudahkan kerja seorang programmer. Akan tetapi, programmer dan profesi TI lainnya akan tetap bekerja melebihi jam kerja normal, tanpa diperhitungkan sebagai jam lembur. Anehnya, dengan gaji senilai itu sebagian besar dari mereka pernah membayar biaya pembangunan gedung kuliah Rp. 25-50 juta lebih. Jika memandangnya sebagai investasi, bukankah hal ini dapat dikatakan “besar pasak daripada tiang?”

Selain faktor kompetisi, perusahaan memang memperketat formula relasi antara keahlian dengan gaji. Kendati hampir di setiap iklan di media cetak maupun media online lowongan untuk profesi ini menduduki posisi terbanyak, permintaan dan penawaran untuk SDM-nya masih di bawah standar. Masih banyak lulusan bidang ini yang menjadi pengangguran.

Mengapa? Hal ini disebabkan keahlian teknis individual yang dimiliki tidak berbanding lurus dengan kebutuhan pasar. Terutama di perkotaan, saat ini penguasaan teknologi bukan lagi sebagai keunggulan kompetitif antarindividu atau antarperusahaan. Hampir setiap pelajar, mahasiswa, dan pekerja mengenal serta menggunakan komputer. Dua faktor yang krusial adalah menyangkut soal SDM dan perusahaan.

SDM di bidang TI sangat berlimpah, tetapi secara umum mutu SDM-nya masih rendah, bahkan di bawah standar. Artinya, para praktisi  kurang memiliki keahlian yang sekarang ini sangat diperlukan, yakni keahlian teknis; kemampuan mengadopsi perkembangan teknologi; kemampuan nalar yang baik dan terlatih; serta kemampuan melakukan kerja sama tim (team work) secara baik di era globalisasi kini.

Untuk soal ini saya perlu mengangkat kasus kecil. Lazimnya, pekerja TI selalu berhubungan dengan perangkat komputer. Namun jika seseorang yang sedang bekerja dengan laptopnya masih refleks mencari pensil dan kertas saat hendak mencatat pesan dari percakapan telepon,  hal ini mencerminkan kebiasaan teknisnya dalam berinteraksi dengan komputer.

Kejadian tersebut memang sering ditemui saat kita berada di rumah, kantor maupun dalam kegiatan belajar-mengajar. Kegagapan dalam penggunaan komputer bagi orang yang jarang menggunakannya adalah hal lumrah. Namun tidak semestinya bagi pekerja TI yang umumnya berinteraksi 12-20 jam dalam sehari dengan komputer dan aplikasinya.Hal sederhana ini akan membawa pada kesadaran profesi, yakni jika ingin bertahan di profesi TI, seorang programmer atau engineer mutlak menghayati aktivitas mereka dengan cara berinteraksi secara intens dan terus menerus dengan dunia komputer dan cyber.

Kualitas SDM seperti yang dicontohkan pada ilustrasi di atas memang tidak terlepas dari latar belakang pendidikan. Sangat disayangkan jika sampai kini mayoritas penyelenggara pendidikan TI masih menggunakan kurikulum usang. Misalnya, sebuah kurikulum masih berisi paket mata kuliah yang mengajarkan bagaimana cara menggunakan Winword atau cara membuat lembar presentasi menggunakan aplikasi PowerPoint. Terus terang mayoritas kurikulum di perguruan tinggi BHMN terkemuka pun menurut saya sangat jauh dari ideal. Inilah yang mengakibatkan banyak mahasiswa tidak kreatif.

Faktor kedua, menyangkut industri dan perusahaan. Seperti disinggung di atas, teknologi itu sendiri kini juga bukan lagi keunggulan kompetitif antarperusahaan. Yang menjadi sarana efektif dalam persaingan di zaman sekarang adalah kemampuan mengadopsi teknologi terbaru secara seketika. Dengan demikian, ada dua catatan utama yang harus diperhatikan perusahaan. Pertama, apakah SDM (baik internal maupun alih daya) yang tersedia memiliki kekuatan dalam berkompetisi di era globalisasi? Kedua, adakah SDM yang memiliki komitmen bersaing di pasar internasional?

Jika kedua faktor tersebut bersinergi, secara alami sistem tawar-menawar nilai SDM TI  pun akan berjalan sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran pasar. Kita bisa ambil sistem yang pernah berjalan di Kanada atau Amerika Serikat. Nilai gaji pekerja TI baik penuh waktu ataupun kontrak, tergantung tidak hanya pada pengalaman dan keahlian, melainkan pula lokasi (kota, provinsi), tunjangan (asuransi jiwa, asuransi gigi, medis, obat-obatan, pilihan saham), bonus, ukuran perusahaan, dan faktor lainnya.

Penentuan nilai gaji antara pekerja lulusan baru, pekerja lama, dan level manajer sangat bergantung pada ukuran perusahaan, serta tingkat manajemen dalam hierarki perusahaan. Eugene Pik, Spesialis Senior Teknik Bank Montreal, Kanada menuturkan pada saya bahwa pasaran gaji setaraf manajer TI di Kanada dan AS kini rata-rata berkisar antara US$60-100 ribu per tahunnya untuk posisi selain wakil direktur. Nah, jika kemampuan individu dan kebutuhan industri sudah sinergis, tak ada lagi yang perlu dicemaskan.  

Siti Nur Aryani, Dipublikasikan di majalah SWA NO. 18/XXII/7-20 SEPTEMBER 2006

Advertisements
Digital & Business Management

Peran Tim TI di Perusahaan


Bagi perusahaan berbasis teknologi informasi (TI), tim (departemen/divisi) TI memiliki tanggung jawab penuh atas kelancaran sistem kerja berbasis elektronis yang diterapkan. Sebagai pengendali lalu lintas data dan informasi perusahaan, tim TI juga memikul tanggung jawab penuh bila terjadi hambatan pada proses bisnis yang disebabkan oleh kegagalan system ataupun kesalahan kerja anggota timnya.

 Amanat berat tersebut dibebankan pada tim TI, karena kapabiilitas, profesionalitas dan otoritas keilmuan khusus yang mereka miliki. Saking kuat otoritasnya, tim TI juga dipandang ikut memikul tanggung jawab terhadap penentuan rasionalitas  “untung-rugi” proyek-proyek di perusahaan.   Continue reading “Peran Tim TI di Perusahaan”