Digital & Business Management

Business and Technology Usage Awareness


Economy is the most fundamental activity in human’s life. Economies without “spouse” become virtual field only and nothing interesting. We can see obvious side in Indonesia agriculture world. Every village economy activity runs start from the old times.

Our agriculture without appropriate technology is only poverty phenomena. Perhaps too far we expect development in agriculture, moreover in maritime sector which is needed advance technology. That is still in our dream. Let we see the phenomena in business sector in big cities and their actors in technology involvement.

  
                In fact, technology has not become reliable enterprise fixing level. It happened in vary of urban enterprise sector. Technology in city business is still limited only in complementing work and information/communication   needs. Only a few kind of business depend on technology and the actors believe internet and telephone as a main pillar for their business.Thomas Malone argued that the development of inexpensive and anywhere information technology will decrease transaction costing terms of market, and reduce supporting to develop leadership hierarchies structure. Joanne Yates also argued that the development of internet is not only as a new communication technology but also as a pioneer newest organization and no hierarchies, that suitable with complexity and well informed-economic demand.

               However, opinions from Malone and Yates above only see success side in applying modern technology in their countries, United States, where there technology really entering in business world and even villages. Unlike in Indonesia, we have to see fact that we just know technology as a tool that we can consume, and it is not as business infrastructure. In fact, Indonesian could run business without technology. If we can buy technology still limited to complement our work even it is just accessories.

 
Political Campaign Style

We have not aware yet that technology is main field for a business project. National business world is conventional business world, traditional will enter adaptation area with advance technology. Therefore, it is impossible if supporting government national business sector only speaking political campaign or at least only giving incentive for entrepreneurs in applying technology.

Technology for society needs soul and fast understanding, smart and response as well as the technology development itself. Without this principal, people only become consumers from advance technology. That was indicated that middle class level prefer consume advance technology.

However, does the customer enjoy technology for enterprise development? Or is that just a life style? There are so many cases those executives who use technologies are not exactly able to use that facilities their own. Tragically, this is also happened in big companies where they consume advance technology but it could not increase their income.

Many cases indicated that technology expenses becoming burden. Another fact is when we see many government institutions really like spend technology especially computer and internet. Apparently, technology application in these fields has been improving productivity and citizen services.

Fact proved that government productivity from day to day will not increase. Only one or two local has achievement in productivity and service. That is not just because of technology applied, more than leadership style is enforced by local leader. Thus, technology then only becomes consumption which has bought and utilized it by customers. About productivity does not increase is beyond technology.

 

Without goal

To make technology is not as a tool only or even just ”to control” human’s life hence we realize the relationship between human and technology. Sugiharto (2002) believe that technology could not be seen as an entity separated from human life reality. According to him, technology could be “inside” human body (medical technology, food technology) besides telephone, facsimile, and computer or air conditioner.

Mutual relationship carries up complex reality. The bigger reality also must be seen like science, technology, and culture has mingled in entity integrated. From here objective condition recommends business actor in modern technology era must catch relationship essence. Without ability and clarity to see reality, business movement (whether company or leadership and initiative) will not reach goal.

This is the important we talk into business in globalization and technology rationally. First, business achievement not only need in understanding trading calculation conventionally, but also it must calculate opening market in hyper consumerism era. Second, technology will applied not only for communication and information but also as a main infrastructure to find potential market. Third, technology spending must be realized the ability of application and rational target. Tend of spending only for communication among staffs enough to use cheap cellular. Then we must think is to prepare response marketing to market environment that will be reached. Marketing here is not usual marketing, but also they have educated staffs in using technology and having ability to literate print or electronic mass media.

Fourth, technology especially The Internet and telephone now is a part of global communication. The weakness of Indonesian businessmen is they open market either in export or import. So many potential markets when we are not only mobilize in regional or national scope. Market has so wide potential consumer then technology can provide this tools in low prices. Why do we think still in the narrow perspective? []

 

Author: Siti Nur Aryani

 

 

Advertisements
Digital & Business Management, Internet Business and Marketing

Bisnis dan Kesadaran Pemanfaatan Teknologi



Ekonomi adalah bidang kehidupan paling fundamental dari kehidupan umat manusia. Hanya saja ekonomi tanpa “penyanding” hanya akan jadi bidang yang semu, tak menarik perhatian. Kita bisa melihat sisi yang jelas dalam dunia pertanian Indonesia. Di setiap kampung kegiatan ekonomi tani berjalan sejak jaman baheula. Tapi wajah pertanian tanpa sandingan teknologi tepat guna niscaya hanyalah fenomena kemiskinan dan keterpurukan yang kita saksikan. Barangkali terlalu jauh kita berharap jika sektor pertanian, apalagi sektor maritim akan segera maju berkat teknologi mutakhir. Itu semua masih dalam impian.

Mari kita lihat fenomena sektor bisnis yang berada di kota besar dan para aktornya juga mengenal teknologi. Faktanya, secara umum yang terjadi, teknologi belum bisa menjadi andalan peningkatan taraf perbaikan usaha. Itu terjadi di berbagai sektor usaha perkotaan. Teknologi di kalangan bisnis kota masih sebatas berfungsi sekedar pelengkap kerja dan bantuan komunikasi/informasi. Hanya satu dua jenis bisnis yang benar-benar bergantung dan pelakunya mempercayai internet dan telepon sebagai pilar utama kelangsungan bisnis.

Benar kata Thomas Malone bahwa dengan berkembangnya teknologi informasi yang murah dan tersedia di mana-mana akan menurunkan biaya transaksi dalam hubungan pasar, berkuranglah dorongan untuk mengembangkan susunan kepemimpinan yang hirarkis. Benar kata pengamat teknologi Joanne Yates bahwa perkembangan internet tidak hanya sebagai teknologi komunikasi baru, melainkan juga sebagai pelopor bentuk organisasi yang sama sekali baru dan tidak hirarki, yang sesuai dengan tuntutan perekonomian yang kompleks dan padat informasi.

Namun pendapat dua pengamat teknologi di atas baru melihat sisi kesuksesan penerapan teknologi modern di negaranya sendiri, yakni Amerika Serikat yang nota bene transformasi teknologi benar-benar sudah masuk ke sendi-sendi bisnis masyarakat bahkan sampai ke petani desa. Masalah di Indonesia tentu lain. Di sini harus melihat fakta objektif bahwa kita memang baru mengenal teknologi sebagai perangkat yang layak dikonsumsi, bukan sebagai infrastuktur yang menjadi kebutuhan untuk kelangsungan bisnis. Nuansa ini bisa dirasakan dari fakta bahwa orang Indonesia bisa menjalankan bisnis tanpa teknologi. Kalaupun bisa beli teknologi masih sebatas untuk pelengkap kerja. Bahkan tak jarang yang hanya untuk asesoris belaka.

Gaya Kampanye Politik

Kita belum menjiwai benar bahwa teknologi adalah lahan utama untuk sebuah proyek bisnis. Dunia bisnis nasional adalah dunia bisnis konvensional, tradisional yang baru akan masuk ke wilayah adaptasi dengan kemutakhiran teknologi. Karena itu, sangat mustahil jika untuk mendorong sektor bisnis nasional pemerintah hanya banyak bicara gaya kampanye politik, atau paling jauh hanya memberikan insentif bagi pelaku usaha untuk menerapkan teknologi. Adaptasi teknologi bagi masyarakat memerlukan penjiwaan dan pemahaman yang cepat, cerdas dan tanggap sebagaimana gerak cepat perkembangan teknologi itu sendiri. Tanpa prinsip ini, niscaya masyarakat hanya menjadi konsumen dari perkembangan cepat nan hebat dari teknologi. Fakta di lapangan menunjukkan kelas menengah kita doyan mengonsumsi teknologi mutakhir. Tapi apakah mereka para konsumen itu benar-benar menikmati teknologi untuk sebuah perkembangan usaha? Atau justru sekadar bergaya? Ada banyak kasus bahwa para eksekutif yang memakai perangkat canggih itu tidak sepenuhnya mampu menggunakan fasilitas yang mereka miliki. Tragisnya ini juga terjadi di perusahaan-perusahan besar di mana mereka mengonsumsi perangkat canggih teknologi namun tidak meningkatkan penghasilan. Bahkan banyak kasus menunjukkan belanja teknologi justru menjadi beban. Fakta lain nampaknya memperkuat hal ini ketika kita menyaksikan berbagai instansi pemerintah, termasuk pemerintah daerah gemar belanja teknologi, terutama komputer dan internet. Target penerapan teknologi memang jelas, yakni meningkatkan kinerja dan pelayanan masyarakat. Tapi fakta membuktikan kinerja pemerintahan dari hari ke hari tidak meningkat. Hanya satu dua daerah yang berpretasi dalam kinerja dan pelayanan. Itupun bukan karena penerapan teknologi, melainkan lebih pada kebajikan kepemimpinan yang diterapkan kepala daerah. Dus, teknologi kemudian hanya menjadi barang konsumsi yang setelah puas dibeli lalu dimanfaatkan sesuka mereka. Soal kinerja tidak meningkat menjadi urusan di luar teknologi.

Tanpa Arah Tujuan
Agar teknologi bukan sekadar alat, atau bahkan “memperalat” kehidupan manusia seyogianya kita menyadari hubungan antara manusia dengan teknologi itu sendiri. Menarik adalah pendapat Bambang Sugiharto (2002) yang meyakini bahwa memang teknologi tidak bisa dilihat sebagai entitas yang terpisah dari realitas hidup manusia. Menurut Bambang, teknologi bisa ada “di dalam” tubuh manusia, (teknologi medis, teknologi pangan), “di samping” (telepon, faks, komupter, “di luar” (satelit), menjadi tempat tinggal (ruangan ber-AC). Relasi mutual ini tentu membawa realitas yang kompleks. Kenyataan lebih besar juga harus kita lihat secara jeli: sains, teknologi dan kultur telah bercampur aduk dalam kesatuan entitas. Dari sinilah kemudian kondisi objektif ini merekomendasikan pelaku bisnis di era teknologi modern harus mampu menangkap esensi hubungan. Tanpa kemampuan dan kejernihan melihat realitas itu niscaya gerak bisnis, baik gerak perusahaan maupun gerak kepemimpinan dan inisiatif tidak akan mencapai sasaran. Paling-paling berjalan tanpa arah tujuan.

Di sinilah pentingnya kita bicara rasional dalam berbinis di era globalisasi dan teknologi. Pertama, pencapaian bisnis tidak sekadar butuh pemahaman hitungan dagang secara konvensional, melainkan juga harus menghitung target pembukaan pasar baru di hutan belantara era hyper konsumerisme. Kedua, teknologi diterapkan bukan sekadar untuk komunikasi dan informasi, melainkan sebagai infrastruktur utama untuk mencari peluang pasar baru. Ketiga, belanja teknologi mesti harus menyadari kemampuan penerapan dan target-target rasional. Kecenderungan belanja sekadar untuk komunikasi sesama karyawan cukuplah dengan perangkat seluler murah. Selanjutnya yang harus dipikirkan adalah mempersiapkan marketing yang tanggap terhadap situasi pasar yang hendak dicapai. Marketing di sini bukan sekadar marketing biasa, melainkan mereka yang benar-benar terdidik dalam memanfaatkan teknologi dan melek perkembangan media massa baik cetak, online maupun televisi.

Keempat, teknologi, terutama internet dan telepon sekarang sudah menjadi bagian komunikasi global. Kelemahan kaum bisnis di Indonesia adalah tidak melebarkan sayap pembukaan pasar baik ekspor-impor maupun layanan jasa ke mancanegara. Padahal banyak pasar yang potensial ketika kita tidak sekadar bergerak di lingkup regional maupun nasional. Pasar begitu luas. Teknologi mampu menyediakan hal itu secara murah. Kenapa pikiran kita masih sempit?

Siti Nur Aryani Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0709/20/opi01.html


Digital & Business Management

Pasar ”Marketing-online” Belum Menggairahkan


MARKETING-ONLINE, istilah ini sekarang sedang diperhatikan sungguh-sungguh oleh perusahaan, baik kelas atas, menengah, maupun perusahaan kelas kecil di hampir seluruh penjuru dunia. Para awak perusahaan tahu bahwa Internet adalah medium yang efektif dan luas jangkauan sebagai sarana pemasaran produk dan jasa. Continue reading “Pasar ”Marketing-online” Belum Menggairahkan”

Digital & Business Management

”Cyber Global” dan Komunikasi Bisnis


ADA tiga kategori pengguna internet, yakni aktif, setengah aktif, dan pasif. Yang pertama adalah mereka yang berhubungan selama 4 – 8 jam, atau bahkan lebih dalam sehari selama satu minggu. Kelompok setengah aktif adalah mereka yang berinteraksi minimal 1 jam dalam sehari selama satu minggu. Sedangkan mereka yang tergolong pasif adalah mereka yang hanya sesekali membuka situs atau sekadar membuka e-email. Apakah Anda sudah benar-benar mendapatkan hasil finansial dari aktivitas bisnis melalui internet? Continue reading “”Cyber Global” dan Komunikasi Bisnis”

Digital & Business Management

Peran Tim TI di Perusahaan


Bagi perusahaan berbasis teknologi informasi (TI), tim (departemen/divisi) TI memiliki tanggung jawab penuh atas kelancaran sistem kerja berbasis elektronis yang diterapkan. Sebagai pengendali lalu lintas data dan informasi perusahaan, tim TI juga memikul tanggung jawab penuh bila terjadi hambatan pada proses bisnis yang disebabkan oleh kegagalan system ataupun kesalahan kerja anggota timnya.

 Amanat berat tersebut dibebankan pada tim TI, karena kapabiilitas, profesionalitas dan otoritas keilmuan khusus yang mereka miliki. Saking kuat otoritasnya, tim TI juga dipandang ikut memikul tanggung jawab terhadap penentuan rasionalitas  “untung-rugi” proyek-proyek di perusahaan.   Continue reading “Peran Tim TI di Perusahaan”

Digital & Business Management

Saatnya Home Industri Berbasis TI


Kerja kantoran; status pegawai, fasilitas kendaraan, alat komunikasi, gaji rutin bulanan, sehari-hari dandan mentereng. Ini adalah gaya khas pekerja di era modern, terutama para pekerja di metropolitan  seperti Jakarta. Namun, kini kita sudah masuk era post-modern atau pasca modern. Masihkah memimpikan hidup dengan pola usang? Teknologi berkualitas tinggi, atau yang biasa disingkat hi-tech telah mengubah secara revolusioner pola hidup kaum post-modernisme.

Source: Horse and Pony Magazine

Teknologi, terutama komunikasi dan informasi bukan sekadar gaya orang gaul yang ingin dianggap keren. Internet dan telepon berbasis hi-tech adalah perangkat kerja manusia yang sadar akan perubahan. Artinya, hi-tech bukan sekadar pengubah gaya hidup melainkan mampu mengubah nasib ekonomi, bahkan nasib hidup seseorang. Continue reading “Saatnya Home Industri Berbasis TI”

Digital & Business Management

Membaca Prospek Iklan di Internet


Hampir 1 miliar orang di dunia terhubung di internet. Pengguna saling berbagi ilmu pengetahuan, interaksi sosial, reputasi online, mencari materi sekolah, lowongan kerja, atau sekadar iseng menghabiskan waktu luang.

Integrasi ini semakin lama menjadi kekuatan kolektif yang belum pernah dikenal manusia sebelumnya, bahkan untuk sepuluh tahun yang lalu. Situasi ini nampaknya tidak berlebihan untuk disebut sebagai revolusi komunikasi dan informasi global. Continue reading “Membaca Prospek Iklan di Internet”