Indonesia Software Localization and Translation

Emma and Company Social Responsibility


People in the past believe that knowledge is everything. At every level of society, knowledge has its unique role to determine whether someone is worth to recognize by community as to be known or deserving to have a higher social status or not.

Emma, a novel by Jane Austen, published in 1815, capturing a reality of women social status in England. Although someone has lower social status just because of poor in economy, they are possible to reach a higher status through a specific marriage by using their intellectual and skills. Jane Fairfax, is represented in the story as a poor woman yet smart in writing, playing piano, dancing and communication. Thus, with her knowledge and skills, she was encouraged by her friend, Emma, to marry a gentleman instead of marrying an ordinary farmer. While Emma, who is told in the story, as a rich, high-class woman and having much money with her skills in painting and playing piano, is told as a woman who at earlier preferred not marrying anyone.

Information to intellectual

Nowadays, knowledge is no longer limited to get, mostly for people in big cities. Internet can make everyone’s head full of information by instant. With new knowledge made of information, people will be triggered to compare and make any changes for their life. At certain level, people will be moved to make improvement in their activities for a better life. We can get anything from Internet. Free language course, online high education lecture, marketing tools, how to farm, personal development, how to make a startup, how to play music instruments, and other unlimited resources.

But such never exhausted information source in today 25 years old of World Wide Web or 45 years of Internet, where human have been uncovered for having huge information, are never experienced by most people in a region in West Bandung, named Cimenyan.

Cimenyan, is a district in Bandung, West Java, Indonesia, where the headquarter of Portalkata Indonesia (Potahouzz) is currently located. The land where the SOHO (small office home office) building stand, was firstly found by accident by two of the company founders. The land is surrounded relative closely by two mountains, Palasari and Manglayang. And luckily, the east side of the building facing East proportionally so every day we are served with different sunrise views. There is a spring water in a rice field in the south side of the building. In summer like this August, the area of the land is never exhausted of water flow.

Realizing that we stand in a very fertile soil, we never want to hurt the land. We always want to let the land free. Just let the plants live there. Let the worms, frogs, toads, snakes, dragonflies and microorganism live in the soil. To preserve the ecosystem, we grow some plants of vegetables and fruits. Such eco-friendly environment surrounding the SOHO, creating a specific comfort place that ideal for media content and translation services company like us. A fresh air, quite place. At late noon to night, animals start making their beautiful, relaxing sounds. Isn’t it ideal for such writing and research activities?

Each of the company top managerial member is or former professional who brushed up years in best companies abroad and the capital city. The author itself also ever worked and lived in big city, Jakarta for long years. But that is not a big deal whether we live in a crowded, full of pollutant city or a green land. Everything is a process if it is not a choice. A happy or unhappy working should not be measured by any dimension, should it? We can say time and place as a hardware that is relative and dynamic by nature, and our mind of intellect we may call it as the software. Both aspects, shall work in harmony giving us meaning if our inner intellect which is called as the firmware, a hundred percent working to provide the true meaning.

The beautiful, happy nature of the area, on the other side is contrary with the people live there. Most people in the area do not have access to education. Most adult to youth got education to elementary or junior high level only. Girls are averagely getting married while their age are 14 or while they are in first grade of junior high school. There are only two to three schools that need to access about 4 to 7 km long on foot. There is no public transportation and poor farmers do not have private transportation for their children go to school.

Starting with many children that always reading books in our mini library plus the said reality did not take long consideration for us to make a small effort. Within our working activity, in early morning for 2 hours in three days and on Sunday, we perform an informal free universal based school for 20 to 25 children. English as intermediate language is only a medium to attract students with something new. The ideal goal of the education itself is for building character with skills targeted on drawing, mapping, writing and farming through a fun and happy schooling method. This August is right the second year of the schooling performed. We believe that this culture based approach of education will bring local wisdom and bright future for our children.*** Siti Nur Aryani

Figure 1. Potahouzz Junior High Level Students

 

Advertisements
Indonesia Software Localization and Translation

Belum Ada Kejutan Dari 3G


TREN terbaru di jagat komunikasi dan informasi kita sudah memasuki “kawasan” 3G, alias generasi ketiga. Iklan-iklan layanan produk seluler tiada henti menebarkan kecanggihan jaringan nirkabel 3G beserta fitur-fitur canggihnya. Media massa juga tak kalah antusias “membantu” para vendor handset menyemarakkan kehadiran teknologi ini melalui liputan-liputannya yang provokatif. Continue reading “Belum Ada Kejutan Dari 3G”

Indonesia Software Localization and Translation

Prospek Pekerja TI di Indonesia


Ada anggapan, memilih studi dalam bidang teknologi informasi (TI) memiliki nilai lebih ketimbang bidang lainnya. Terutama untuk mencari pekerjaan dan meraih gaji tinggi setelah kelulusan. Memang, asumsi ini ada benarnya, karena pada dasarnya perusahaan di masa kini sangat membutuhkan tenaga TI. Hal ini juga tidak lepas dari keahlian teknis dan tanggung jawab tenaga TI untuk menunjang operasional bisnis perusahaan, bahkan tak jarang terlibat secara penuh 

Akan tetapi, untuk urusan gaji, sebenarnya agak berlebihan jika profesi ini disebut-sebut bergaji lebih tinggi ketimbang profesi di bidang lain. Tahun 1994-1999-an seorang lulusan baru sebagai pekerja penuh waktu (full-time) dengan profesi setaraf programmer, analis sistem, administrator sistem, administrator jaringan, administrator database, dan sebagainya, memperoleh kisaran penghasilan bersih rata-rata antara Rp. 2,2 – 2,8 juta per bulan. Sementara bagi pekerja paruh waktu (part-time) upah yang diperoleh di kisaran Rp.100-250 ribu per jam. Upah ini biasanya akan bertambah di tahun berikutnya atau pada perpanjangan kontrak selanjutnya.

Untuk ukuran Indonesia, nilai gaji lulusan baru untuk profesi TI di atas memang cukup tinggi dibanding dengan pekerja lulusan baru dari profesi lain. Namun demikian, nilai upah tersebut tetap saja masih tergolong rendah dibanding upah di negeri-negeri maju. Yang jelas, anggapan profesi TI dengan gaji tinggi sempat ramai dan diyakini masyarakat, bahkan memperoleh perhatian serius dari kalangan pengusaha bisnis pendidikan.

Tak heran sejak 1999 marak bermunculan lembaga pendidikan dan sekolah tinggi komputer untuk program D-1, D-3, dan S-1. Bahkan sejak Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia ditetapkan menjadi BHMN, perguruan tinggi ini pun seolah tidak ingin kalah berbisnis dengan cara mendirikan program-program serupa.

Sesuai hukum pasar, semakin banyak ketersediaan sumber daya manusia maka nilai jualnya kian turun. Seorang programmer lulusan baru bahkan kini rata-rata hanya dihargai Rp. 1,2-1,8 juta per bulan. Perkembangan sistem object oriented dan embeded modul sekarang memang memudahkan kerja seorang programmer. Akan tetapi, programmer dan profesi TI lainnya akan tetap bekerja melebihi jam kerja normal, tanpa diperhitungkan sebagai jam lembur. Anehnya, dengan gaji senilai itu sebagian besar dari mereka pernah membayar biaya pembangunan gedung kuliah Rp. 25-50 juta lebih. Jika memandangnya sebagai investasi, bukankah hal ini dapat dikatakan “besar pasak daripada tiang?”

Selain faktor kompetisi, perusahaan memang memperketat formula relasi antara keahlian dengan gaji. Kendati hampir di setiap iklan di media cetak maupun media online lowongan untuk profesi ini menduduki posisi terbanyak, permintaan dan penawaran untuk SDM-nya masih di bawah standar. Masih banyak lulusan bidang ini yang menjadi pengangguran.

Mengapa? Hal ini disebabkan keahlian teknis individual yang dimiliki tidak berbanding lurus dengan kebutuhan pasar. Terutama di perkotaan, saat ini penguasaan teknologi bukan lagi sebagai keunggulan kompetitif antarindividu atau antarperusahaan. Hampir setiap pelajar, mahasiswa, dan pekerja mengenal serta menggunakan komputer. Dua faktor yang krusial adalah menyangkut soal SDM dan perusahaan.

SDM di bidang TI sangat berlimpah, tetapi secara umum mutu SDM-nya masih rendah, bahkan di bawah standar. Artinya, para praktisi  kurang memiliki keahlian yang sekarang ini sangat diperlukan, yakni keahlian teknis; kemampuan mengadopsi perkembangan teknologi; kemampuan nalar yang baik dan terlatih; serta kemampuan melakukan kerja sama tim (team work) secara baik di era globalisasi kini.

Untuk soal ini saya perlu mengangkat kasus kecil. Lazimnya, pekerja TI selalu berhubungan dengan perangkat komputer. Namun jika seseorang yang sedang bekerja dengan laptopnya masih refleks mencari pensil dan kertas saat hendak mencatat pesan dari percakapan telepon,  hal ini mencerminkan kebiasaan teknisnya dalam berinteraksi dengan komputer.

Kejadian tersebut memang sering ditemui saat kita berada di rumah, kantor maupun dalam kegiatan belajar-mengajar. Kegagapan dalam penggunaan komputer bagi orang yang jarang menggunakannya adalah hal lumrah. Namun tidak semestinya bagi pekerja TI yang umumnya berinteraksi 12-20 jam dalam sehari dengan komputer dan aplikasinya.Hal sederhana ini akan membawa pada kesadaran profesi, yakni jika ingin bertahan di profesi TI, seorang programmer atau engineer mutlak menghayati aktivitas mereka dengan cara berinteraksi secara intens dan terus menerus dengan dunia komputer dan cyber.

Kualitas SDM seperti yang dicontohkan pada ilustrasi di atas memang tidak terlepas dari latar belakang pendidikan. Sangat disayangkan jika sampai kini mayoritas penyelenggara pendidikan TI masih menggunakan kurikulum usang. Misalnya, sebuah kurikulum masih berisi paket mata kuliah yang mengajarkan bagaimana cara menggunakan Winword atau cara membuat lembar presentasi menggunakan aplikasi PowerPoint. Terus terang mayoritas kurikulum di perguruan tinggi BHMN terkemuka pun menurut saya sangat jauh dari ideal. Inilah yang mengakibatkan banyak mahasiswa tidak kreatif.

Faktor kedua, menyangkut industri dan perusahaan. Seperti disinggung di atas, teknologi itu sendiri kini juga bukan lagi keunggulan kompetitif antarperusahaan. Yang menjadi sarana efektif dalam persaingan di zaman sekarang adalah kemampuan mengadopsi teknologi terbaru secara seketika. Dengan demikian, ada dua catatan utama yang harus diperhatikan perusahaan. Pertama, apakah SDM (baik internal maupun alih daya) yang tersedia memiliki kekuatan dalam berkompetisi di era globalisasi? Kedua, adakah SDM yang memiliki komitmen bersaing di pasar internasional?

Jika kedua faktor tersebut bersinergi, secara alami sistem tawar-menawar nilai SDM TI  pun akan berjalan sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran pasar. Kita bisa ambil sistem yang pernah berjalan di Kanada atau Amerika Serikat. Nilai gaji pekerja TI baik penuh waktu ataupun kontrak, tergantung tidak hanya pada pengalaman dan keahlian, melainkan pula lokasi (kota, provinsi), tunjangan (asuransi jiwa, asuransi gigi, medis, obat-obatan, pilihan saham), bonus, ukuran perusahaan, dan faktor lainnya.

Penentuan nilai gaji antara pekerja lulusan baru, pekerja lama, dan level manajer sangat bergantung pada ukuran perusahaan, serta tingkat manajemen dalam hierarki perusahaan. Eugene Pik, Spesialis Senior Teknik Bank Montreal, Kanada menuturkan pada saya bahwa pasaran gaji setaraf manajer TI di Kanada dan AS kini rata-rata berkisar antara US$60-100 ribu per tahunnya untuk posisi selain wakil direktur. Nah, jika kemampuan individu dan kebutuhan industri sudah sinergis, tak ada lagi yang perlu dicemaskan.  

Siti Nur Aryani, Dipublikasikan di majalah SWA NO. 18/XXII/7-20 SEPTEMBER 2006

Indonesia Software Localization and Translation

Selain Cina, Kita Patut Belajar dari India


Kemajuan Teknologi Informasi-Komunikasi

Sadar bahwa negeri kita serba tertinggal dari laju perkembangan industri dan modernisasi, para pengamat globalisasi selalu mengajak kita belajar dari negeri Cina. Bukan karena hadist nabi, “belajarlah sampai ke negeri Cina” yang memprovokasi kita, melainkan karena di negeri Tirai Bambu itu perkembangan pesat sedang terjadi. Memang, pelajaran revolusi industri dan ekonomi yang telah mengantarkan negeri Cina sebagai kekuatan Negara adidaya itu patut kita pelajari. Continue reading “Selain Cina, Kita Patut Belajar dari India”

Indonesia Software Localization and Translation

Blog, dari Bualan Menuju Bisnis


Kebanyakan Anda tentu sudah mafhum dengan istilah blog (weblog), yang singkatnya merupakan situs berisi dokumen pribadi. Kini, siapa pun yang ingin punya blog hanya butuh beberapa menit untuk mengakses situs penyedianya dan membuatnya. Gratis dan mudah! Sebab, blog tidak mensyaratkan formalitas registrasi. Semua orang bisa membuat blog. Continue reading “Blog, dari Bualan Menuju Bisnis”

Indonesia Software Localization and Translation

Seluler yang Sarat Inovasi


Jumlah pengguna ponsel GSM di Indonesia saat ini baru sekitar 30 juta orang dari jumlah 220 juta penduduk
Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekira 5,2 persen didominasi PT Telkomsel. Adapun pengguna telefon tetap tanpa kabel (nirkabel) yang menggunakan teknologi CDMA baru menguasai 20 persen.
Para operator tampaknya semakin optimistis menggaet pelanggan baru. Hal ini disebabkan penduduk
Indonesia masih banyak belum menggunakan telekomunikasi seluler.

Berbasis inovasi

Seiring dengan makin banyaknya pengguna telekomunikasi bergerak, terlihat berbagai perkembangan layanan yang semakin inovatif. Kita lihat akhir-akhir ini, CDMA maupun GSM telah memberikan layanan data dan internet. Layanan seperti ini tentu akan membuka peluang bagi bisnis telekomunikasi tersendiri. Masyarakat butuh komunikasi yang serba baru dan serba canggih. Semakin canggih sarana komunikasi diciptakan, semakin bosan seseorang memakai layanan yang lama. Maka, inovasi paduan antara internet dan seluler sebagai sesuatu yang baru di Indonesia jelas mempunyai prospek tersendiri. Continue reading “Seluler yang Sarat Inovasi”

Indonesia Software Localization and Translation

Fenomena Politik Windows vs Linux


Masalah perangkat lunak komputer bukan sekadar soal teknis atau soal variabel dan parameter. Di era serba-komputer sekarang ini bisa jadi masalah itu mengarah pada soal politik, bahkan ideologi. Di Perancis hal itu terjadi.

Alkisah, Pemerintahan Kota Paris melalui Departemen Teknologi Informasi-nya melakukan studi kelayakan berkaitan dengan rencana penerapan sistem perangkat lunak berbasis Linux. Asumsi prastudi, jika hasil riset membuktikan Linux lebih murah dan efektif, maka pemerintah akan mengalihkan 17.000 perangkat PC yang selama ini menggunakan Windows. Continue reading “Fenomena Politik Windows vs Linux”